Politikus PKB: Doa Neno Warisman Puncak Kebohongan Kubu Prabowo

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyanyi Neno Warisman membacakan puisi dalam aksi solidaritas untuk Ahmad Dhani di DPP Gerindra, Jakarta, Rabu, 30 Januari 2019. Ahmad Dhani saat ini menjalani hukuman penjara 1 tahun 6 bulan sebagai tahanan titipan di Rutan Cipinang. TEMPO/Nurdiansah

    Penyanyi Neno Warisman membacakan puisi dalam aksi solidaritas untuk Ahmad Dhani di DPP Gerindra, Jakarta, Rabu, 30 Januari 2019. Ahmad Dhani saat ini menjalani hukuman penjara 1 tahun 6 bulan sebagai tahanan titipan di Rutan Cipinang. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Politikus PKB Lukman Edy menilai, puisi doa Neno Warisman dalam acara Munajat 212 merupakan puncak kebohongan yang dilakukan kubu capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo - Sandiaga.

    Baca juga: Soal Doa Neno Warisman, PBNU: Yang Disembah Tuhan, Bukan Pilpres

    "Doa sesat Neno Warisman adalah puncak dari kebohongan yang dibangun," kata Lukman Edy seperti dikutip Antara dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Sabtu, 24 Februari 2019. Lukman mengatakan, puisi doa Neno Warisman, yang merupakan bagian tim sukses Prabowo - Sandi, tidak lagi menyasar umat Islam, tapi bangsa Indonesia atau berupaya mendelegitimasi KPU.

    Puisi doa yang berisi kebohongan itu, menurutnya, disodorkan kepada Allah SWT. "Ini di luar batas orang normal, di luar kebiasaan akal sehat," katanya. Wakil Direktur Bidang Saksi Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf itu mengatakan, dalam puisi doanya, Neno Warisman menyatakan tidak akan ada lagi orang menyembah Allah SWT jika Jokowi menang. "Dia tidak pantas mengucapkan doa itu, apalagi hanya untuk sebuah tujuan menang pemilu. Ini adalah kebohongan dan hoaks kepada Maha Pencipta, Allah SWT," tegasnya.

    Lukman mengingatkan sebelumnya kubu Prabowo telah berulang kali melakukan kebohongan. Misalnya, dengan mendesain ijtima ulama dan menggiring opini umat Islam, dengan cara mengatakan Prabowo akan menggandeng beberapa ulama populer sebagai calon pasangannya.

    Namun faktanya, Prabowo malah menggandeng Sandiaga Uno dengan pertimbangan memiliki dana kampanye yang melimpah, serta belakangan menyatakan Sandiaga adalah ulama milenial.

    Selain itu, kata dia, kubu Prabowo melalui Ratna Sarumpaet juga berbohong menciptakan dramatisasi operasi plastik untuk membuat hoaks soal kriminalisasi.

    Baca juga: Soal Doa Neno, Timses Prabowo: Munajat 212 Bukan Program BPN

    Kemudian kubu Prabowo juga kerap berupaya mengkriminalisasi KPU dengan berbagai tudingan seperti soal DPT ganda, kotak suara kardus, temuan kontainer surat suara tercoblos, hingga tudingan soal penyelenggaraan debat capres yang berpihak. "Sasaran mereka menggertak KPU dan membangun opini bahwa KPU tidak profesional, penuh kecurangan, tidak independen, tidak netral, dan pantas untuk ditolak hasil pemilunya kalau Joko Widodo yang menang," kata Lukman.

    Potongan video yang menampilkan mantan aktris Neno Warisman tengah berdoa di acara munajat 212 Kamis malam lalu viral di jagat maya. Dalam potongan doa Neno Warisman itu menyebut "Jangan, jangan Engkau tinggalkan kami dan tak menangkan kami. Karena jika Engkau tidak menangkan, kami khawatir ya Allah, kami khawatir ya Allah, tak ada lagi yang menyembah-Mu."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.