Cerita JK Terpaksa Maju Jadi Presiden di Pilpres 2009

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla (tengah) didampingi Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (kiri) dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kanan) saat meninjau pengoperasian MRT (Mass Rapid Transit) di Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta, Rabu, 20 Februari 2019. Kalla mengatakan keberadaan MRT diharapkan dapat mengurangi tingkat kemacetan di Jakarta. ANTARA/Dhemas Reviyanto

    Wakil Presiden Jusuf Kalla (tengah) didampingi Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (kiri) dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (kanan) saat meninjau pengoperasian MRT (Mass Rapid Transit) di Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta, Rabu, 20 Februari 2019. Kalla mengatakan keberadaan MRT diharapkan dapat mengurangi tingkat kemacetan di Jakarta. ANTARA/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla atau JK mengisahkan salah satu episode dalam hidupnya yaitu saat ia mencalonkan diri sebagai presiden di Pemilu Presiden 2009.

    Baca juga: Soal Lahan Prabowo di Kaltim, JK: Kebetulan, Saya yang Kasih Itu

    "Saya dalam proses pemilu itu tidak pernah mengusulkan. Selalu saya diminta. Saya tidak pernah meminta untuk jadi wapres. Saya selalu diminta untuk jadi wapres sejak zaman Pak SBY, Pak Jokowi. Waktu mau jadi presiden itu terpaksa," kata JK dalam silaturahmi nasional Institut Lembang Sembilan di Hotel Aryaduta, Jakarta, Sabtu, 23 Februari 2019.

    JK menjelaskan bahwa saat itu ia terpaksa karena Partai Golkar menjadi partai terbesar. Sehingga, untuk menjaga harkat partai, Golkar harus memiliki calon presiden. Kemudian, para kader mengusulkan ketua umum lah yang menjadi calon presiden dari Golkar. Ketua umum partai berlambang pohon beringin saat itu adalah JK. "Maka tidak bergabung lagi dengan Pak SBY," katanya.

    Saat bertarung di Pilpres 2009, JK berpasangan dengan Wiranto. Saat itu, ada tiga pasangan calon presiden dan wakil presiden yang bersaing, yaitu SBY-Boediono, JK-Wiranto, dan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto. Dari hasil perolehan suara, pasangan SBY-Boediono unggul 60,8 persen. Megawati-Prabowo berada di urutan kedua dengan perolehan 26,79 persen suara. Sedangkan JK-Wiranto 12,41 persen.

    Baca juga: Moeldoko Bilang Negara Tidak Akan Tarik Lahan Prabowo, Sebab...

    Kemudian, JK menceritakan bahwa seluruh pengalaman dalam hidupnya dilalui secara bertahap. Misalnya, saat kuliah, JK pernah menjadi ketua senat, ketua dewan, kemudian Ketua KAHMI.

    Begitu juga di politik, JK pernah menjabat sebagai anggota DPRD Sulawesi Selatan, anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat, menteri, menteri koordinator, dan berhenti di jabatan wakil presiden. Adapun kariernya di perusahaan dimulai dari manajer, direktur, hingga presiden komisaris.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.