Belajar dari Basoeki Abdullah, Melampaui Batas dalam Keterbatasan

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ngobrol Tempo Tour Museum

    Ngobrol Tempo Tour Museum

    INFO NASIONAL-- Museum merupakan salah satu sumber edukasi bagi masyarakat, selain sebagai tujuan rekreasi. Museum menawarkan manfaat yang sangat besar, baik bagi anak-anak maupun dewasa. Koleksi masa lalu yang tak ternilai harganya akan sia-sia jika tak dipergunakan sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan dan kreativitas tentunya.

    Sebagai aset bangsa, museum tak hanya bisa dinikmati kalangan pelajar, mahasiswa, dan seniman saja. Mereka yang berasal dari kalangan berkebutuhan khusus juga bisa menikmati pengetahuan di museum untuk menggali inspirasi.

    Untuk mengedukasi masyarakat luas dan anak-anak binaan rumah singgah, TEMPO Media Group bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggelar diskusi Ngobrol@Tempo, bertema “Mitos, Legenda, dan Dongeng Inspirasi Kreativitas Generasi Milenial ”.

    Acara yang berlangsung pada Sabtu, 16 Februari 2019 di Museum Basoeki Abdullah, Cilandak, Jakarta Selatan tersebut mengajak sekitar seratus anak-anak binaan dari rumah singgah se-Jabodetabek untuk menjelajah museum, melukis, dan mendengarkan dongeng.

    Kepala Museum Basoeki Abdullah, Maeva Salmah, mengatakan kegiatan ini bertujuan memberi kesempatan kepada anak-anak rumah singgah untuk berkreativitas. Diharapkan sepulang dari kegiatan ini muncul semangat untuk meraih cita-cita karena terinspirasi dari sosok Basoeki Abdullah.

    “Sebelumnya pengunjung museum hanya anak-anak yang punya pendidikan formal. Kami merasa terpanggil, diharapkan lewat kegiatan ini mereka merasakan negara hadir dan juga salah satu pembentukan karakter. Basoeki Abdullah pada masa kecil pernah sendirian berpetualang mengejar cita-citanya. Petualangannya dimulai menaiki kereta api sendirian dan tidak punya ongkos. Hingga Ia berkenalan dengan seorang dokter kemudian melukisnya, menghasilkan uang, dan menjejakkan kakinya di Pulau Dewata,” kata Maeva Salmah.

    Pada kesempatan yang sama, setelah diajak berkeliling museum, anak-anak ini akan diajak berdiskusi seputar “Mitos, Legenda, dan Dongeng Inspirasi Kreativitas Generasi Milenial”. Nara sumber yang hadir adalah psikolog dari Universitas Indonesia Vera Itabiliana, motivator Ubaydillah Anwar, dan penutur dongeng Salma Indria Rahman. Perbincangan dimoderatori oleh Iwank Kurniawan dari Tempo Media Group.

    Vera Itabiliana menyampaikan, dongeng tak hanya sekadar cerita fiksi semata tapi banyak manfaatnya. Salah satunya, merangsang kreativitas dan imajinasi. Imajinasi anak yang berkembang saat mendengarkan dongeng menjadi tanda otak bekerja dan kreatif.

    “Untuk mengasah kreativitas, penutur bisa berhenti di tengah cerita dan menantang anak untuk melanjutkan cerita,” kata Vera.

    Agar efektif mendongeng, ada trik yang bisa dipelajari karena bertutur menjadi cara berkomunikasi. Namun lebih dari itu, agar menjadi inspirasi, Salma menekankan yang terpenting adalah pesan moral yang ingin disampaikan. Misalnya, dongeng Malin Kundang dari Sumatera Barat memiliki pesan agar selalu berbakti kepada orang tua. Dongeng pun bisa jadi media efektif untuk menumbuhkan minat baca.

    “Dongeng bisa diserap dengan membacanya. Membaca jendela ilmu yang bisa membawa kita keliling dunia,” kata Salma.

    Senada dengan hal itu, menurut Ubaydillah cerita-cerita dalam mitos, legenda, dan dongeng bisa mengembangkan potensi.

    “Semua orang yang bisa mengembangkan potensinya, pasti dia gemar belajar. Basoeki Abdullah pasti gemar belajar, punya kemauan keras. Kemauan bisa muncul dari diri kita, tapi menekuni sesuatu harus dengan cinta dan keyakinan di atas segalanya," ujar Ubay.

    Ketiga pembicara sepakat, menumbuhkan keyakinan hati untuk meraih cita-cita harus dibarengi dengan kreatifitas, ilmu, dan kerja keras.

    Di akhir acara Maeva berpesan, sosok Basoeki Abdullah tak pernah lepas dari kegemarannya membaca buku. Buku hibah dari koleksi Basoeki Abdullah yang ada di museum kurang lebih tiga ribu buku. Pesan ini pula yang diharapkan bisa menyentuh dan menginspirasi anak-anak untuk mengenal warisan seni dari salah satu maestro pelukis realis naturalis Indonesia ini.

    “Apa pun bakat yang dimiliki, lakukan penggalian dari buku-buku. Kalau punya masa depan, harus yakin dengan bakat yang belum tereksplorasi. Namun, ada tantangan bagaimana mengawal anak rumah singgah menjadi insan berguna. Tapi dengan niat yang baik pasti berhasil,” kata Maeva. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sulli dan Artis SM Entertaintment yang juga Tewas Bunuh Diri

    Sulli, yang bernama asli Choi Jin-ri ditemukan tewas oleh managernya pada 14 Oktober 2019. Ada bintang SM lainnya yang juga meninggal bunuh diri.