Satgas Tinombala Tangkap Kurir Mujahidin Indonesia Timur

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang porsenil pasukan brimob mencium anaknya saat mengikuti upacara pemberangkatan pasukan Operasi Tinombala di Kantor Polda Sulsel, Makassar, 6 Agustus 2016. 105 porsenil Brimob tersebut dikirim ke Poso guna mencari 18 orang terduga teroris kelompok jaringan Santoso yang masih berada di hutan Poso Sulawesi Tengah. TEMPO/Fahmi Ali

    Seorang porsenil pasukan brimob mencium anaknya saat mengikuti upacara pemberangkatan pasukan Operasi Tinombala di Kantor Polda Sulsel, Makassar, 6 Agustus 2016. 105 porsenil Brimob tersebut dikirim ke Poso guna mencari 18 orang terduga teroris kelompok jaringan Santoso yang masih berada di hutan Poso Sulawesi Tengah. TEMPO/Fahmi Ali

    TEMPO.CO, Jakarta - Satuan Tugas atau Satgas Tinombala menangkap satu orang yang bertugas menjadi kurir simpatisan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Kurir ini ditangkap di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

    Baca: Satgas Tinombala Tunggu Perintah Kapolda untuk Serang Ali Kalora

    "Yang bersangkutan membawa kebutuhan pokok untuk Ali Kalora cs seperti beras, mie instan, atau telor. Dibawa dengan menggunakan karung, dipikul," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo saat dikonfirmasi, Kamis, 14 Februari 2019.

    Tak hanya kurir simpatisan, Satgas Tinombala juga mengidentifikasi satu orang lagi yang turut bergabung ke kelompok MTI. Ia adalah anak kandung Ali Kalora. Dedi menyatakan, polisi kini sedang dalam proses penetapan Daftar Pencarian Orang (DPO) terhadap anak kandung Ali Kalora tersebut.

    "Dia (anak kandung Ali Kalora) antara direkrut atau inisiatif sendiri datang ke lokasi persembunyian bapaknya. Ini lagi kami identifikasi terus," ucap Dedi.

    Satgas Tinombala dan TNI saat ini masih terus melakukan pengejaran terhadap Ali Kalora tersebut sejak upaya preventif berakhir pada 29 Januari 2019 lalu. Dedi menuturkan, timnya telah memutus empat jalur logistik yang dikuasai oleh Ali Kalora cs. Khususnya, jalur yang biasa digunakan masyarakat untuk berkebun, mencari rotan, menjerat babi, dan menambang. 

    Sebelumnya, Polri telah mengultimatum kelompok Ali Kalora ini untuk menyerahkan diri sebelum tanggal 29 Januari 2019. Ultimatum itu, salah satunya, ditulis dalam selebaran yang disebar melalui udara dan darat di wilayah pegunungan biru, Sulawesi Tengah yang disinyalir sebagai tempat persembunyian mereka.

    Ali Kalora cs kembali menjadi sorotan publik setelah aksinya membunuh dan memutilasi warga di Desa Salubanga, Sausu, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah pada 31 Desember 2018 lalu. Diduga aksi tersebut untuk mengundang aparat kepolisian mendatangi lokasi.

    Simak juga: Satgas Tinombala Siap Menyerbu Ali Kalora Cs Setelah 29 Januari

    Keesokan harinya, mereka menembaki petugas kepolisian yang tengah olah TKP dan mengevakuasi jasad korban mutilasi. Dua anggota mengalami luka tembak akibat peristiwa tersebut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tingkat Kepuasan Kinerja dan Catatan Baik Buruk 5 Tahun Jokowi

    Joko Widodo dilantik menjadi Presiden RI periode 2019 - 2024. Ada catatan penting yang perlu disimak ketika 5 tahun Jokowi memerintah bersama JK.