Prabowo Menjenguk Ani Yudhoyono di Singapura

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Capres Prabowo Subianto Kamis sore ini menemui Presiden RI ke 6 SBY, saat menjenguk Ibu Ani Yudhoyono di NUH Singapore. Foto/Anung Anindito

    Capres Prabowo Subianto Kamis sore ini menemui Presiden RI ke 6 SBY, saat menjenguk Ibu Ani Yudhoyono di NUH Singapore. Foto/Anung Anindito

    TEMPO.CO, Jakarta-Calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto, menjenguk istri mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Kristiani Herawati atau akrab disapa Ani Yudhoyono di National University Hospital, Singapura, Kamis, 14 Februari 2019.

    Kunjungan Prabowo menjenguk Ani Yudhoyono diketahui lewat sebuah video yang diunggah oleh anggota pengurus pusat Partai Demokrat, Jansen Sitindaon, di akun twitternya pukul 17.45 WIB.

    Baca: Jokowi Sudah Telepon SBY untuk Cek Kondisi Ani Yudhoyono

    Dalam video itu tampak Prabowo datang dengan menggunakan sedan berwarna hitam. Prabowo datang disambut beberapa kader Demokrat seperti Ferdinand Hutahean dan Sjarief Hasan. "Nanti saya update lagi ya perkembangannya. Oke," kata Jansen sambil melihat kamera sebelum mengakhiri video itu.

    Kemarin, melalui sebuah video, SBY menyampaikan bahwa Ani Yudhoyono mengidap kanker darah. Dalam video berdurasi 4 menit 23 detik itu, SBY memohon doa kepada seluruh rakyat Indonesia agar sang istri diberi kekuatan dan kesembuhan. "Sehingga Ibu Ani bisa menjalani kegiatan seperti sedia kala," kata SBY.

    Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon juga menuturkan Prabowo telah berkomunikasi dengan SBY terkait kondisi mantan ibu negara Ani Yudhoyono. “Saya kira kita ikut mendoakan supaya bu Ani Yudhoyono bisa lekas sembuh dan lekas pulih dari penyakit ini,” ujar Fadli, Selasa, 12 Februari 2019 lalu.

    Simak: Fakta-fakta Kondisi Ani Yudhoyono yang Sedang Dirawat


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.