Moeldoko Disarankan Mundur dari KSP Jika Ingin Perang Total

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal TNI (Purn) Moeldoko memberikan sambutan dalam acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bidang Kehumasan dan Hukum Seluruh Indonesia Tahun 2019 di Hotel Bidakara, Jakarta, 11 Februari 2019. Rakosnas tersebut membahas sinergi humas pemerintah pusat dengan humas pemda, gerakan bersama partisipasi masyarakat dan pemda sukseskan pemilu dan informasi mengenai hukum-hukum terkait pelaksanaan Pemilu Serentak 2019. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal TNI (Purn) Moeldoko memberikan sambutan dalam acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bidang Kehumasan dan Hukum Seluruh Indonesia Tahun 2019 di Hotel Bidakara, Jakarta, 11 Februari 2019. Rakosnas tersebut membahas sinergi humas pemerintah pusat dengan humas pemda, gerakan bersama partisipasi masyarakat dan pemda sukseskan pemilu dan informasi mengenai hukum-hukum terkait pelaksanaan Pemilu Serentak 2019. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto - Sandiaga Uno, Andre Rosiade, mengomentari pernyataan 'perang total' dari Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo - Ma'ruf Amin, Moeldoko, yang dilontarkan kemarin.

    Baca juga: Sopir Truk Cegat Mobil Jokowi, Moeldoko: Sikap Presiden Biasa

    "Pak Moeldoko ini kan orang Istana ya? KSP (Kantor Staf Presiden) ya? Kalau mau perang total, berhenti dulu deh jadi kepala KSP," kata Andre kepada Tempo, Kamis, 14 Februari 2019. Moeldoko adalah Kepala Staf Kepresidenan yang menjabat sejak 17 Januari 2018 lalu menggantikan Teten Masduki.

    Andre juga mengatakan pernyataan Moeldoko soal perang total adalah contoh orang-orang panik lantaran elektabilitas tak kunjung naik. "Sama kaya calon presidennya (Jokowi) yang panik juga, berimbas kepada anak buahnya panik juga. Perang total lah, genderuwo lah, sontoloyo lah, propaganda Rusia lah, konsultan asing lah," ujar Andre.

    Karena itu, Andre sekali lagi menyarankan agar Moeldoko berhenti dulu sebagai kepala staf presiden. "Kalau Anda masih jadi pejabat, tolong komentar Anda yang lebih produktif dan lebih teduh gitu loh."

    Kemarin, Moeldoko menegaskan bahwa saat ini timnya sudah masuk dalam strategi kampanye perang total. "Kami nyatakan sudah mulai perang total. Kami sudah menentukan center of gravity dari pertempuran itu, sehingga kami tahu harus bagaimana," ujar Moeldoko di Markas TKN, Gedung High End, Jakarta pada Rabu, 13 Februari 2019.

    Namun, mantan Panglima TNI ini membantah bahwa alasan strategi perang total digunakan akibat elektabilitas calon presiden inkumben Jokowi yang cenderung stagnan di 62 hari menuju hari-H pencoblosan pemilihan presiden 2019.

    Baca juga: Kubu Jokowi Pasang Strategi Perang Total, Ini Kata Pengamat

    "Enggak (karena stagnan). Perang total ini karena kami tidak ingin menang dengan persentase rendah. Kami ingin optimum. Target yang kami harapkan masih 70 persen," ujar Moeldoko.

    Moeldoko menjelaskan, perang total yang dimaksud, yakni; menggunakan seluruh sumber daya yang dimiliki dengan optimal, mulai dari partai politik, relawan, dan seluruh elemen pendukung paslon 01. "Kami mengenali kekuatan kami dan akan menggunakannya secara optimum untuk melakukan penetrasi terhadap segmen yang menjadi prioritas," ujar Kepala Staf Kepresidenan ini.

    Andre Rosiade mengatakan Prabowo cs tak memiliki strategi khusus untuk menghadapi strategi perang total itu. "Kita mah, strategi kita terus berkomunikasi dengan rakyat, yakinkan rakyat, tidak perlu perang-perang total. Karena kami tahu, rakyat ingin perubahan," tutur Andre Rosiade.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.