Kebakaran Hanguskan Dua Kelas Pusat Bahasa UIN Sunan Kalijaga

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kebakaran. TEMPO/Subekti

    Ilustrasi kebakaran. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Kebakaran telah menghanguskan dua kelas unit Pusat Bahasa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta  Jumat siang 8 Februari 2019. Kebakaran terjadi saat berlangsungnya ibadah sholat Jum’at, sekitar pukul 12.30 WIB.

    “Kebetulan pas kejadian saat Jumatan, kelas sudah kosong tak ada kegiatan perkuliahan,” ujar Kepala Unit Pusat Bahasa UIN Sunan Kalijaga Yogya Sembodo saat ditemui di lokasi kejadian. Sembodo menuturkan, kobaran api yang terjadi di ruang 206 itu merembet ke ruang sebelahnya di ruang 207, namun tak sampai merusak fasilitas yang ada.

    Kepanikan di kalangan dosen dan mahasiswa memang sempat terjadi, namun tak ada korban luka maupun jiwa dalam insiden tersebut. Api berhasil dipadamkan oleh tiga unit mobil pemadam kebakaran Kota Yogyakarta.

    Seluruh fasilitas ruang kelas bernomor 206 di lantai dua kampus itu luluh-lantak, Dinding-dinding  penuh jelaga hitam. Kursi, panan tulis, pendingin ruangan, hingga proyektor hangus dilalap sir a amerah. Tak hanya itu, ubin keramik lantai ruang kelas itu juga terangkat naik dan nyaris lepas akibat panas.   

    Sembodo menduga api berasal dari korsleting pendingin ruangan atau AC yang menempel di salah satu dinding. Paska-kebakaran kondisi pendingin ruangan terlihat hancur tak berbentuk, diperkirakan meledak atau terbakar. “Ini AC-nya memang sudah sangat tua karena dipasang berbarengan peresmian gedung 2006 silam. AC ini sudah sering mati sendiri,” ujar Sembodo.

    Total mahasiswa di unit Pusat Bahas UIN Sunan Kalijaga saat ini ada 3000 mahasiswa. Sedangkan ruangan di unit itu ada 25 kelas. “Masih ada sisa 23 kelas yang bisa dipakai sementara,” ujar Sembodo.

    PRIBADI WICAKSONO (Yogyakarta)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.