Analisa Kriminolog tentang Teror Pembakaran Mobil di Jawa Tengah

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kaca mobil pecah. Wikipedia.org

    Ilustrasi kaca mobil pecah. Wikipedia.org

    TEMPO.CO, Jakarta - Kriminolog Universitas Indonesia Iqrak Sulhin menilai, belum terungkapnya pelaku teror pembakaran mobil  di Jawa Tengah karena metode identifikasi yang digunakan polisi masih manual. Polisi bekerja berdasarkan kamera pengawas (CCTV).

    Semakin jelas informasi dari CCTV perihal wajah pelaku, akan semakin mudah. “Mungkin ada beberapa rekaman CCTV yang belum cukup membantu," ujar Iqrak saat dihubungi, Jumat, 8 Februari 2019.

    Baca: Ganjar Minta Kepala Daerah Antisipasi Teror Pembakaran Mobil

    Sejak 31 Januari 2019, Kepolisian Daerah Jawa Tengah mencatat sudah 28 teror pembakaran mobil terjadi di wilayah kerjanya. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jawa Tengah Komisaris Besar Agus Triatmaja menuturkan pembakaran mobil itu terjadi di Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kabupaten Kendal, dan Kabupaten Grobogan. 

    Sejumlah teror pembakaran mobil oleh orang tak dikenal ini diduga dilakukan untuk meresahkan masyarakat. "Pelaku ingin bikin resah masyarakat Semarang, tidak tenang dan ketakutan," ujar Agus saat dihubungi, Kamis, 7 Februari 2019 malam.

    Baca: Polri Bentuk Tim Khusus Buru Pelaku Teror Pembakaran Mobil

    Alasan senada juga diungkapkan Iqrak. Ia melihat, ada beberapa hal yang bisa menjadi motif dalam teror pembakaran mobil ini. Namun, untuk sementara ini, aksi ini untuk 'iseng' yang bertujuan membuat masyarakat khawatir atau ketakutan.

    "Motif iseng ini terlihat dari pilihan korban yang secara acak," kata Iqrak. Apalagi, polisi juga menyebut penyelidikan sementara menunjukan para korban tak saling terkait. "Kecuali jika ditemukan hubungan antarkorban, itu bisa saja pelaku memiliki motif yang bersifat interpersonal."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.