Mengenang Rahman Tolleng, Kolega dan Sahabat Berbagi Kesan

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Eksekutif Tempo Institute Mardiyah Chamim (kiri) sebagai moderator, bersama para pembicara: Robertus Robert, Marsillam Simanjuntak, dan putra Rahman Tolleng, Erman Rahman dalam acara Mengenang Rahman Tolleng di Ruang dan Tempo, Jakarta, Kamis, 7 Februari 2019. Acara ini diisi dengan testimoni rekan-rekan Rahman Tolleng, aktivis politik angkatan 66. TEMPO/Charisma Adristy

    Direktur Eksekutif Tempo Institute Mardiyah Chamim (kiri) sebagai moderator, bersama para pembicara: Robertus Robert, Marsillam Simanjuntak, dan putra Rahman Tolleng, Erman Rahman dalam acara Mengenang Rahman Tolleng di Ruang dan Tempo, Jakarta, Kamis, 7 Februari 2019. Acara ini diisi dengan testimoni rekan-rekan Rahman Tolleng, aktivis politik angkatan 66. TEMPO/Charisma Adristy

    Rahman Tolleng dikenal kritis sepanjang hidupnya. Dia berani mengkritik Soeharto dan sempat mengusulkan Golkar menjadi partai modern. Kendati, usul itu ditampik.

    Baca: Jejak Aktivis Demokrasi Rahman Tolleng di Bidang Politik

    Sosiolog Robertus Robert menuturkan, meski terjun ke politik Rahman Tolleng tetaplah seorang independen. Robert menyebut Rahman sebagai political man, seorang yang tak bisa dideterminasi oleh lingkungan eksternalnya.

    "Dia selalu ingin mengabdikan diri ke politik, tapi pada saat yang sama ingin independen," kata murid Rahman Tolleng di Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D) ini.

    Jurnalis senior Jopie Hidayat, yang juga salah satu evaluator Opini Tempo, mengatakan meninggalnya Rahman membuat banyak orang kehilangan. Menurut Jopie, pemikiran dan politik tegak lurus ala Rahman amat dibutuhkan di tengah situasi politik dengan bipolarisme yang mengental saat ini. Tempo, kata Jopie, tak terlepas dari jebakan ini.

    "Di sinilah Pak Rahman meletakkan tarik-menarik ini di garis tengah yang sangat jernih. Keberpihakannya hanya pada demokrasi dan civil supremacy," ujar Jopie.

    Rahman Tolleng. Dok.TEMPO/ JACKY RACHMANSYAH

    Istri Rahman Tolleng, Tati Rahman, berterima kasih atas perhatian sahabat dan kolega terhadap almarhum suaminya. Dia tak menyangka begitu banyak orang yang peduli dan turut merasa kehilangan sosok Rahman. "Terima kasih atas perhatian dari semua pihak, yang muda maupun tua, saya sangat terharu," kata Tati.

    Salah satu anak Rahman Tolleng, Erman Rahman, masih ingat perbincangan serius terakhir dengan ayahnya. Tiga hari sebelum mangkat, Rahman membicarakan Ging Ginanjar, jurnalis BBC yang meninggal dunia pada Ahad, 20 Januari 2019.

    Kepada Erman, Rahman mengaku sedih dan berduka dengan kepergian Ging. Namun, Rahman menutup perbincangan dengan keyakinan bahwasannya Ging sudah menjalani hidup dengan lengkap.

    Baca: Tokoh Pergerakan Rahman Tolleng Meninggal Karena Sakit

    "Kasian ya Ging, cepat banget. Tapi ya enggak apa-apalah, Ging hidupnya sudah lengkap," kata Erman menirukan. "Dan sekarang dua orang yang sudah lengkap itu sudah barengan."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    5 Fakta Vaksin Nusantara

    Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menuai pro dan kontra.