Di hadapan Alumni Pangudi Luhur, Jokowi Pamer Bangun MRT Jakarta

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon presiden nomor urut 01 Jokowi menerima kaus dari Wakil Ketua Alumni Pangudi Luhur Bersatu Rosan P Roeslani (kiri) disaksikan Anggota Dewan Pengarah Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi - Ma'ruf Amin, Pramono Anung (kanan) saat acara deklarasi di Jakarta, Rabu, 6 Februari 2019. Alumni Pangudi Luhur secara resmi mendukung pasangan Capres dan Cawapres nomor urut 01 Joko Widodo - Ma'ruf Amin dalam kontestasi Pilpres 2019. ANTARA

    Calon presiden nomor urut 01 Jokowi menerima kaus dari Wakil Ketua Alumni Pangudi Luhur Bersatu Rosan P Roeslani (kiri) disaksikan Anggota Dewan Pengarah Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi - Ma'ruf Amin, Pramono Anung (kanan) saat acara deklarasi di Jakarta, Rabu, 6 Februari 2019. Alumni Pangudi Luhur secara resmi mendukung pasangan Capres dan Cawapres nomor urut 01 Joko Widodo - Ma'ruf Amin dalam kontestasi Pilpres 2019. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Di depan ratusan alumni Pangudi Luhur, Calon presiden inkumben, Joko Widodo atau Jokowi, menceritakan keberhasilan membangun MRT Jakarta yang sudah puluhan tahun hanya direncanakan. Jokowi memulai pembangunan MRT saat masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

    Baca: Jokowi ke Alumni Pangudi Luhur: Kok Dukung Saya?

    "Pembangunan MRT di Jakarta, saat saya jadi Gubernur saat itu saya dipaparkan. Sudah 26 tahun direncanakan. Kemudian, saya suruh paparkan. Kenapa sih ini tidak dibangun sejak 26 tahun?" kata Jokowi dalam acara deklarasi dukungan alumni SMA Pangudi Luhur di Soehanna Hall, Jakarta, Rabu, 6 Februari 2019.

    Proyek MRT Jakarta dirintis sejak 1985. Namun, pembangunan komstruksinya baru dimulai pada Oktober 2013, setahun setelah Jokowi menjabat Gubernur DKI. Proyek tersebut dimulai dengan pembangunan Fase I dari Lebak Bulus - Bundaran HI sepanjang 16 kilometer.

    Jokowi menuturkan, penyebab proyek itu tak kunjung dibangun ternyata karena selalu menghitung untung dan rugi. Menurut Jokowi, transportasi massal pasti membuat rugi.

    Berdasarkan perhitungan, kata dia, MRT Jakarta harus disubsidi Rp 3 triliun setiap tahun. Ia pun menanyakan potensi sumber pemasukan DKI dari bidang lain. Akhirnya didapat ada potensi pemasukan sebesar Rp 4 triliun jika menerapkan kebijakan electronic road pricing (ERP) di Jakarta.

    "Saya putuskan ini jalan besok. Apa yang ada di pikiran saya seperti ini keputusan politik, bukan untung dan rugi. Bukan ekonomi. Ini keputusan politik dengan segala resiko yang sudah saya hitung. Sehingga ini jalan," ucapnya.

    Jokowi tak bisa membayangkan jika transportasi massal seperti MRT tak kunjung dibangun pada saat itu. Sebab, Jakarta dan sekitarnya kehilangan Rp 65 triliun per tahun akibat kemacetan.

    Bahkan, Jokowi memperkirakan hitungan kerugiannya saat ini sudah mencapai Rp 100 triliun per tahun. "Kalau ini tidak kita putuskan transportasi massal, sampai kapanpun tidak akan dibangun karena hitungan untung rugi. Mestinya hhitung ekonomi makro," kata dia.

    Simak juga: 5 Alasan Alumni Pangudi Luhur Dukung Jokowi: Tidak Cengeng

    Begitu juga dengan infrastruktur lainnya. Kepada Alumni Pangudi Luhur, Jokowi menilai, jika ditunda-tunda, biaya pembangunannya akan semakin mahal. Karenanya, Jokowi mengutamakan infrastruktur di era pemerintahannya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.