BMKG Temukan Delapan Titik Zona Gempa di Sumatera Barat

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gempa magnitudo 6,1 mengguncang Nias Selatan. Kredit: BMKG

    Gempa magnitudo 6,1 mengguncang Nias Selatan. Kredit: BMKG

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melakukan rapat koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Rapat yang dihadiri oleh Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo, Gubernur dan Wakil Gubernur Sumbar, dan Ketua DPRD Sumbar itu membahas mengenai mitigasi penanganan bencana gempa & tsunami.

    Baca: Tahun Baru Imlek 2019, BMKG: Seluruh Jakarta Diguyur Hujan 

    “Ada delapan titik zona gempa (megathrust) yang perlu mendapatkan perhatian khusus, salah satunya adalah Kabupaten Kepulauan Mentawai. Megathrust Mentawai adalah yang paling diwaspadai,” ujar Dwikorita dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 6 Februari 2019.

    Kedelapan titik zona gempa tersebut, kata dia, merupakan hasil riset Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG. Dwikorita menjelaskan tim menggunakan analisis distribusi spasial B-value untuk mengetahui delapan zona tersebut.

    Sebagai tindak lanjut temuan tersebut, Dwikorita telah menambah unit khusus untuk mengawasi Kepulauan Mentawai. Penambahan berupa pembangunan mini Unit Pelaksana Teknis (UPT) di Padang Panjang. Tim tambahan itu akan bekerja khusus memantau  sesar aktif di Sumatera Barat.

    Selain menambah unit pengawas, BMKG juga akan memasang 50 unit alat EEWS (Earthquake Early Warning System). Alat yang akan dipasang di pesisir Sumatera Barat itu akan memberi peringatan dini bahaya guncangan yang ditimbulkan akibat gempa. Sistem ini juga dapat mengurangi dampak kerusakan infrastruktur vital seperti pembangkit listrik dan mesin-mesin pabrik.

    “Sebab EEWS secara otomatis akan mematikan sistem kelistrikan/sistem mekanik ketika ada peringatan gempa,” kata Dwikorita. Alat tersebut saat ini telah diserahkan oleh BMKG kepada Pemrov Sumatera Barat.

    Dwikorita juga telah menyerahkan 15 Warning Receiver System (WRS) di BPBD Kabupaten atau Kota di Sumatera Barat, serta di TNI AL Lantamal Padang. Alat itu berfungsi untuk mengkoordinasikan serta menyebarkan informasi saat gempa dan tsunami terjadi.

    Baca: Cuaca Hari Ini, BMKG Perkirakan Jakarta Kembali Diguyur Hujan

    BMKG juga memberikan Edukasi dan mitigasi bencana dengan pendekatan sosio kultural,” kata Dwikoria soal pencegahan gempa dan tsunami di Sumatera Barat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Palapa Ring Akan Rampung Setelah 14 Tahun

    Dicetuskan pada 2005, pembangunan serat optik Palapa Ring baru dimulai pada 2016.