Di Acara Alumni PL, Jokowi Cerita Sukses Mulai Pembangunan MRT

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo atau Jokowi meninjau proyek pembangunan <i>mass rapid transit</i> (MRT) di kawasan Bundaran HI dan Senayan, Jakarta, Selasa, 6 November 2018. TEMPO/Subekti

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi meninjau proyek pembangunan mass rapid transit (MRT) di kawasan Bundaran HI dan Senayan, Jakarta, Selasa, 6 November 2018. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Calon presiden inkumben, Joko Widodo atau Jokowi, menceritakan keberhasilannya memulai pembangunan MRT Jakarta yang sudah puluhan tahun hanya rencana. Jokowi memulai pembangunan MRT saat masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

    Baca: Presiden Jokowi Pastikan MRT Jakarta Beroperasi Maret 2019

    "Pembangunan MRT di Jakarta, saat saya jadi gubernur. Saat itu dipaparkan sudah 26 tahun direncanakan. Kemudian, saya suruh paparkan. Kenapa sih ini tidak dibangun sejak 26 tahun?," kata Jokowi dalam acara deklarasi dukungan alumni SMA Pangudi Luhur di Soehanna Hall, Jakarta, Rabu, 6 Februari 2019.

    Proyek MRT Jakarta dirintis sejak 1985. Namun pembangunan konstruksinya baru dimulai pada Oktober 2013, setahun setelah Jokowi menjabat Gubernur DKI. Proyek tersebut dimulai dengan pembangunan Fase I dari Lebak Bulus - Bundaran HI sepanjang 16 kilometer.

    Jokowi menuturkan, penyebab proyek itu tak kunjung dibangun ternyata karena selalu menghitung untung dan rugi. Menurut dia, transportasi massal pasti membuat rugi.

    Baca: Begini Pengalaman Jokowi Naik MRT Jakarta ke Lebak Bulus

    Berdasarkan perhitungan, kata dia, MRT Jakarta harus disubsidi Rp 3 triliun setiap tahun. Ia pun menanyakan potensi sumber pemasukan DKI dari bidang lain. Akhirnya didapat ada potensi pemasukan sebesar Rp 4 triliun jika menerapkan kebijakan electronic road pricing (ERP) di Jakarta.

    "Saya putuskan ini jalan besok. Apa yang ada di pikiran saya seperti ini keputusan politik, bukan untung dan rugi, bukan ekonomi. Ini keputusan politik dengan segala risiko yang sudah saya hitung, sehingga ini jalan," ucapnya.

    Jokowi mengatakan ia tak bisa membayangkan jika transportasi massal seperti MRT tak kunjung dibangun pada saat itu. Sebab, Jakarta dan sekitarnya kehilangan Rp 65 triliun per tahun akibat kemacetan. Bahkan, Jokowi memperkirakan hitungan kerugiannya saat ini sudah mencapai Rp 100 triliun per tahun. "Kalau ini tidak kita putuskan transportasi massal, sampai kapanpun tidak akan dibangun karena itungan untung rugi. Mestinya itung ekonomi makro," kata dia.

    Baca: Anies Janji Umumkan Tarif Kereta MRT Tengah atau Akhir Februari

    Begitu juga dengan infrastruktur lainnya. Jokowi menilai, jika ditunda-tunda, biaya pembangunannya akan semakin mahal. Karenanya, Jokowi mengutamakan infrastruktur di era pemerintahannya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tingkat Kepuasan Kinerja dan Catatan Baik Buruk 5 Tahun Jokowi

    Joko Widodo dilantik menjadi Presiden RI periode 2019 - 2024. Ada catatan penting yang perlu disimak ketika 5 tahun Jokowi memerintah bersama JK.