Anggota Komisi 1 Minta TNI Fokus di Bidang Pertahanan

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dari kiri, Tim Komunikasi Kampanye Rakyat Nita Kartikasari,  Bendahara Tim Pemenangan Ahok-Djarot, Charles Honoris, dan Asisten Bendahara, Michael Viktor Sianipar memberikan laporan penerimaan dan pengeluaran dana Kampanye Rakyat di Jakarta, 12 Februari 2017. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Dari kiri, Tim Komunikasi Kampanye Rakyat Nita Kartikasari, Bendahara Tim Pemenangan Ahok-Djarot, Charles Honoris, dan Asisten Bendahara, Michael Viktor Sianipar memberikan laporan penerimaan dan pengeluaran dana Kampanye Rakyat di Jakarta, 12 Februari 2017. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Komisi Pertahanan DPR, Charles Honoris, mengatakan belum ada pembahasan revisi UU TNI atau Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia. Ia mengatakan isu revisi UU TNI masih sekedar wacana saja.

    Baca: TNI Gunakan Teknologi Militer Lawan Kelompok Bersenjata Papua

    "Belum dibahas sama sekali, masih sekedar wacana saja. Tidak masuk program legislasi nasional juga," kata Charles kepada Tempo, Rabu 6 Februari 2019.

    Charles mengatakan sulit untuk menanggapi soal ini, karena dirinya mengaku belum melihat usulan revisi UU TNI ini seperti apa. Tetapi ia berpendapat bahwa penugasan personil TNI di Kementerian atau lembaga negara tidak boleh melenceng dari bidang yang berkaitan dengan pertahanan negara.

    Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini menambahkan perwira TNI yang selama ini sudah dilatih dengan keahlian khusus di bidang pertahanan nasional, lebih baik dioptimalkan dalam bidang-bidang tersebut. Bukan melebar ke sektor-sektor lain.

    "Sebetulnya ini menjadi momentum untuk mengkaji kembali blue print pertahanan negara. Struktur organisasi baik di TNI maupun di Kementerian Pertahanan bisa dikembangkan lagi untuk memperkuat sistem pertahanan. Sekaligus menampung jumlah perwira yang saat ini masih non-job," ujar dia.

    Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto sebelumnya berencana memperluas pos jabatan bagi perwira tinggi tentara di internal TNI dan lembaga negara. “Kami menginginkan bahwa lembaga atau kementerian yang bisa diduduki oleh TNI aktif itu eselon satu, eselon dua. Tentunya akan juga menyerap pada eselon-eselon di bawahnya, sehingga kolonel bisa masuk di sana,” ujar Hadi dalam rapat pimpinan TNI di Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis 31 Januari 2019.

    Namun Hadi menuturkan langkah ini masih terhambat dan perlu menunggu revisi Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI, khususnya Pasal 47 agar perwira menengah dan perwira tinggi bisa berdinas di lembaga negara.

    Simak juga: Banyak Perwira Menganggur, Panglima TNI Menunggu Revisi UU TNI

    Berdasarkan data Kementerian Pertahanan, jumlah perwira tinggi TNI yang menganggur terus terakumulasi sejak sembilan tahun lalu. Di Angkatan Darat, misalnya, pada 2011 terdapat 11 jenderal yang tidak mendapat jabatan. Jumlah itu melonjak menjadi 63 jenderal pada 2017. Jenderal tanpa jabatan itu hanya masuk kantor di lantai 8 gedung utama Markas Angkatan Darat.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.