Pembunuhan Keji Ini Terungkap Gara-gara Telepon Genggam

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pembunuhan. FOX2now.com

    Ilustrasi pembunuhan. FOX2now.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Peristiwa pembunuhan keji yang dilakukan Baja Tule Laia, 33 tahun atas temannya Iwan Halawan, 35 tahun terungkap berkat telepon genggam.

    Baca juga: Pembunuhan Siswi SMK Bogor, Polisi Bikin Sketsa Wajah Pelaku

    Baja Tule ditangkap Kepolisian Resor Kuantansingingi, Riau, setelah akhirnya ketahuan membunuh Iwan dengan keji pada Desember 2018 lalu.

    "Kami amankan barang bukti handphone merek Polytron dan sebuah sepeda motor," kata Kepala Polres Kuantansingingi, Ajun Komisaris Mustofa, Jumat, 1 Februari 2019.

    Mustofa mengatakan, kasus itu terungkap menyusul adanya laporan dari istri korban Delima Laia, (25) bahwa suaminya Iwan Halawa telah hilang sejak Desember 2018. Namun istri korban curiga, saat melihat handphone korban ada pada pelaku.

    "Berdasarkan keterangan pelapor, kami langsung mengamankan pelaku," ujarnya.

    Setelah dimintai keterangan kata dia, Baja Tule mengaku telah membunuh korban di sebuah perkebunan karet, Desa Jake, Kecamatan Kuantan Tengah, Kuantansingingi. Kepada polisi, pelaku mengaku nekat membunuh korban karena sakit hati.

    Pembunuhan dilakukan dengan cara memukul Iwan dengan kayu. Setelah tak berdaya, korban diseret ke perkebunan karet. Baja kemudian membakar tubuh korban hingga akhirnya tewas.

    Baca juga: Penyebab Polisi Kesulitan Menangkap Pembunuh Siswi SMK Bogor

    "Setelah itu tulang dikumpulkan, dimasukkan dalam kantong beras dan dikubur dalam tanah disekitar kebun karet tempat pelaku bekerja," ujarnya.

    Hingga kini polisi masih terus melakukan penyelidikan kasus pembunuhan ini dengan melakukan evakuasi jasad korban yang sudah menjadi tulang belulang untuk dilakukan autopsi di Rumah Sakit Bhayangkara, Pekanbaru, Riau.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.