Ray Rangkuti: Ahok Bisa Tambah Elektabilitas Jokowi

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jokowi-Ahok Ancam Mutasi Lagi Desember

    Jokowi-Ahok Ancam Mutasi Lagi Desember

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Lingkar Madani Ray Rangkuti menilai mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok bisa menambah efek elektoral terhadap Calon Presiden inkumben Joko Widodo atau Jokowi.

    Baca: Setelah Bebas, Ahok Bakal Bisnis Minyak dan Jadi Host Talk Show

    "Memang isu penodaan atau penistaan agama akan dipakai kembali menyerang Jokowi," kata Ray Rangkuti pada Jumat, 25 Januari 2019. "Tetapi dalam perkembangannya penggiringan isu semacam ini hanya ramai di kalangan pemilih salah satu calon presiden, jadi tak akan mempan."

    Sementara untuk pemilih mengambang, kata Rangkuti, isu Ahok penista agama tak memiliki pengaruh besar. "Malah bisa jadi faktor menambah suara sebab makin banyak yang tersadar bahwa isu sara dan identitas itu lebih banyak bermotif politik," ujar dia.

    Secara pilihan partai, Rangkuti menilai hanya PDIP dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang pas untuk Ahok. Baik secara karir maupun secara ide-ide politik, 

    Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago menilai, Ahok tak akan pernah pensiun dari politik praktis pasca peristiwa yang menderanya. Kendati demikian, dia memprediksi Ahok tidak akan tergesa-gesa kembali ke dunia politik.

    Simak juga: Bikin Band Teman Penjara, Ahok Jadi Vokalis

    "Sepertinya BTP berdiam dulu sejenak, tak mau ikut ikutan, menjadi bagian dan beban pada Pilpres 2019. Pasca pilpres 2019, BTP mungkin probalitasnya bergabung menjadi kader PDIP lebih besar dan kembali ke gelanggang politik praktis," kata Pangi mengomentari soal Ahok saat dihubungi Tempo, Jumat, 25 Januari 2019.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.