Satgas Tinombala Siap Menyerbu Ali Kalora Cs Setelah 29 Januari

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah anggota TNI bersiap untuk melakukan penyisiran kolompok sipil bersenjata Santoso di Watutau, Lore Peore, Poso, Sulawesi Tengah, 23 Maret 2016. Penyisiran tersebut dilakukan setelah ditemukan dua anggota kelompok sipil bersenjata tewas ketika kontak senjata. ANTARA FOTO

    Sejumlah anggota TNI bersiap untuk melakukan penyisiran kolompok sipil bersenjata Santoso di Watutau, Lore Peore, Poso, Sulawesi Tengah, 23 Maret 2016. Penyisiran tersebut dilakukan setelah ditemukan dua anggota kelompok sipil bersenjata tewas ketika kontak senjata. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta-Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengultimatum  kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora. Jika sampai 29 Januari 2019 tidak menyerahkan diri, mereka bakal diserbu. "Setelah tanggal 29 diperintahkan bergerak, maka Satuan Tugas Tinombala langsung serbu," kata Dedi Prasetyo di Markas Besar Polri, Jakarta, Kamis, 23 Januari 2019.

    Menurut Dedi  Satgas Tinombala bersama Tentara Nasional Indonesia bakal bersikap represif jika upaya preventif terhadap kelompok  Ali Kalora tak membuahkan hasil. Satgas Tinombala, ujar Dedi, sedang melokalisasi  jalur-jalur logistik dan komunikasi kelompok Ali Kalora. Hal itu dilakukan untuk mempersempit ruang gerak Ali Kalora cs.

    Baca: 29 Januari, Batas Waktu Ali Kalora untuk Serahkan Diri

    “Jadi, jalur-jalur logistik, kemudian jalur komunikasi, jalur-jalur yang tidak menutup kemungkinan kelompok tersebut akan turun dari hutan ke perbatasan. Di desa-desa semua sudah dilokalisir oleh satgas penegakan hukum,” kata Dedi.

    Satgas Tinombala juga telah menyebarkan pamflet agar kelompok Ali Kalora menyerahkan diri. Bahkan, foto keluarga para anggota kelompok MTI dipasang di poster dan disebar. Tujuannya  untuk memancing para buronan tersebut menyerahkan diri.

    Dedi menuturkan penggunaan foto keluarga kelompok Ali Kalora  sudah dipertimbangkan terlebih dulu. Dedi mengklaim pihak keluarga justru tidak terkucilkan karena warga setempat sudah paham dengan situasi yang terjadi.

    Tak hanya itu saja, rumah-rumah para anggota kelompok Ali Kalora  juga dijaga oleh Bintara Pembina Desa (Babinsa) dan Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas). Meski begitu, kata Dedi, anggota Babinsa dan Bhabinkamtibmas tidak akan berjaga selama 24 jam. "Hanya monitoring sifatnya," ucap Dedi.

    Simak: Polisi Tetapkan Ali Kalora Cs Tersangka Mutilasi dan Penembakan

    Hingga kini Satgas Tinombala masih mengejar kelompok MIT tersebut. Pengejaran dilakukan menyusul penembakan terhadap dua polisi yang tengah membawa jenazah korban mutilasi di Dusun Salubose, Desa Salubanga, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

    Sebelumnya, aparat yang sedang membawa jenazah RB alias A, 34 tahun, warga sipil korban mutilasi di kawasan Desa Salubanga ditembaki sekelompok orang bersenjata yang diduga kelompok  Ali Kalora, pada 31 Desember 2018. Dua polisi, Bripka Andrew dan Bripda Baso, terluka.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.