Acara Penyambutan Abu Bakar Baasyir di Pesantren Dibatalkan

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah, Senin 21 Januari 2019. Usai dibebaskan, terpidana kasus terorisme Abu Bakar Ba'asyir akan tinggal bersama anak ketiganya Abdul Rochim di komplek Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki Sukoharjo. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha

    Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah, Senin 21 Januari 2019. Usai dibebaskan, terpidana kasus terorisme Abu Bakar Ba'asyir akan tinggal bersama anak ketiganya Abdul Rochim di komplek Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki Sukoharjo. ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha

    TEMPO.CO, Jakarta - Pesantren Al Mukmin Ngruki, Sukoharjo akhirnya membatalkan rencana penyambutan Abu Bakar Baasyir yang sedianya digelar sore ini. Sebab, pemerintah masih mengkaji kemungkinan pembebasan terpidana terorisme itu.

    Baca: Pengacara Bandingkan Hukuman Baasyir dengan Robert Tantular

    "Sudah dipastikan bahwa ustad (Baasyir) batal dibebaskan hari ini," kata Wakil Direktur Pesantren Al Mukmin, Sholeh Ibrohim, Rabu 23 Januari 2019. Kepastian itu diperoleh dari anak bungsu Baasyir, Abdurrochim yang saat ini masih berada di Lapas Gunung Sindur, Bogor.

    Padahal, pihak pesantren telah mempersiapkan acara penyambutan untuk Baasyir. "Kami telah memasang tenda di dalam pesantren," katanya. Rencananya, tenda itu akan segera dibongkar dan dikembalikan ke persewaan.

    Selain itu, pihak pesantren juga sudah menyiapkan konsumsi yang cukup banyak. "Sekitar 1.600 porsi," kata Sholeh. Lantaran acara dibatalkan, dia berencana membagikan konsumsi itu kepada warga dalam sebuah acara pengajian.

    Baca: Abu Bakar Baasyir Batal Dibebaskan, Begini Penjelasan Moeldoko

    Saat ini aktivitas santri di pesantren itu berjalan dengan normal. Suasana di sekitar lingkungan pesantren cukup lengang karena para santri tengah belajar di dalam kelas. "Tidak ada rencana meliburkan mereka dalam penyambutan ini," kata Sholeh.

    Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan pemerintah masih mengkaji pembebasan bersyarat terpidana kasus terorisme Abu Bakar Baasyir. Menurut dia, pemerintah tidak bisa menabrak aturan terkait hal ini. "Ini, kan, ada mekanisme hukum yang harus kami tempuh. Masa kami nabrak, kan, enggak bisa," katanya di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa, 22 Januari 2019.

    Jokowi memastikan jika Baasyir bebas, maka statusnya adalah bebas bersyarat. Sebabnya Baasyir harus memenuhi salah satu syarat, yaitu membuat pernyataan tertulis kesetiaan pada Negara Kesatuan Republik Indonesia. "Bukan pembebasan murni, ini pembebasan bersyarat. Syaratnya harus dipenuhi. Kalo ndak, kan, enggak mungkin saya nabrak. Setia pada NKRI, setia pada Pancasila, itu basic sekali," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?