UGM Usulkan NU dan Muhammadiyah Jadi Kandidat Penerima Nobel

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  •  NU dan Muhammadiyah. Wikipedia-Muhammadiyah

    NU dan Muhammadiyah. Wikipedia-Muhammadiyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian Universitas Gadjah Mada (PSKP UGM) berencana mengajukan Nahdlatul Ulama atau NU dan Muhammadiyah sebagai kandidat penerima penghargaan Nobel perdamaian. Kedua organisasi itu dianggap menawarkan wajah lain dari Islam yang selama ini dikenal dunia.

    Baca juga: Survei: Imbauan 5 Ulama NU Didengar Lebih dari 15 Persen Pemilih

    Kepala PSKP UGM Najib Azca mengatakan Islam saat ini identik dengan diskursus mengenai kekerasan, terorisme, hingga ekstremisme. Stereotip itu terutama muncul dari wilayah Timur Tengah yang selama ini dianggap sebagai kiblat Islam.

    "Tapi sebenarnya kita memiliki wajah Islam yang berbeda di Indonesia," kata Najib saat dihubungi Tempo, Selasa, 22 Januari 2019. Dia menuturkan, budaya keislaman Indonesia relatif damai. Selain itu, kondisinya tergolong unik, terutama dengan hadirnya NU dan Muhammadiyah.

    Najib menyebut kedua organisasi itu sebagai pilar sipil Islam. Hadirnya NU dan Muhammadiyah membuktikan Islam cocok dengan sistem demokrasi, sesuatu yang selama ini banyak diragukan pemikir terkemuka. "Indonesia membuktikan bisa menjadi negara muslim yang besar sekaligus demokratis," katanya.

    NU dan Muhammadiyah juga merupakan organisasi dengan massa yang besar. Najib memperkirakan tak ada organisasi Islam sebesar itu di dunia.

    Kondisi itu, menurut dia, patut menjadi contoh bagi negara lain. "Ini menarik jika di-highlight lalu masuk dalam calon penerima Nobel Price, dianggap sebagai permata dunia yaitu mengenai Islam yang damai, demokratis, dan berkeadaban," ujarnya.

    Baca juga: Cerita Adik Gus Dur Soal Prabowo - Sandiaga ke Makam Pendiri NU

    PSKP UGM saat ini tengah mempersiapkan dokumen untuk mengusulkan NU dan Muhammadiyah sebagai kandidat penerima Nobel perdamaian. Pendaftaran kandidat penerima Nobel perdamaian ini akan ditutup pada 30 Januari 2019.

    Najib mengatakan, langkah ini juga dilakukan oleh Guru Besar Antropologi Universitas Boston Amerika Serikat Robert W. Hefner. Dia telah mengirimkan dokumen pengajuan penghargaan Nobel perdamaian untuk NU dan Muhammadiyah kepada panitia.

    Catatan:
    Judul dan isi berita ini telah diubah pada Kamis, 24 Januari 2019, pukul 07.02 WIB, karena ada koreksi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sandiaga Uno Alami Cegukan Saat Quick Count Pilpres 2019

    Dilansir Antara, Sandiaga Uno tak tampil di publik usai pelaksanaan Pilpres 2019 karena kabarnya ia cegukan. Beginilah proses terjadinya cegukan.