Kasus Hukum Abu Bakar Baasyir: Menolak Pancasila Sampai Terorisme

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kuasa hukum capres Joko Widodo dan Maruf Amin, Yusril Ihza Mahendra (kanan) mengunjungi narapidana kasus terorisme Abu Bakar Baasyir (tengah) di Lapas Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat , Jumat 18 Januari 2019. Abu Bakar Baasyir akan dibebaskan dengan alasan kemanusiaan karena usia yang sudah tua dan dalam keadaan sakit serta memerlukan perawatan. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya

    Kuasa hukum capres Joko Widodo dan Maruf Amin, Yusril Ihza Mahendra (kanan) mengunjungi narapidana kasus terorisme Abu Bakar Baasyir (tengah) di Lapas Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat , Jumat 18 Januari 2019. Abu Bakar Baasyir akan dibebaskan dengan alasan kemanusiaan karena usia yang sudah tua dan dalam keadaan sakit serta memerlukan perawatan. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya

    Disangka Terlibat Teror Malam Natal dan Bom Bali

    Baasyir ditetapkan tersangka oleh Kepolisian RI pada 8 Oktober 2018, atas sejumlah aksi teror di Indonesia. Penetapan tersangka itu menyusul pengakuan Omar Al Faruq kepada Tim Mabes Polri di Afghanistan juga tersangka pelaku pengeboman di Bali.

    Majalah TIME menulis berita dengan judul Confessions of an Al Qaeda Terrorist dalam laporan itu Abu Bakar Baasyir disebut-sebut sebagai perencana peledakan di Mesjid Istiqal. TIME menduga Baasyir sebagai bagian dari jaringan terorisme internasional yang beroperasi di Indonesia.

    Baca: Yusril Lapor Pembebasan Abu Bakar Baasyir sebelum debat Pilpres

    Mengutip dari dokumen CIA, TIME menulis bahwa pemimpin spiritual Jamaah Islamiyah Abu Bakar Baasyir "terlibat dalam berbagai plot." Ini menurut pengakuan Omar Al-Faruq, seorang pemuda warga Yaman berusia 31 tahun yang ditangkap di Bogor dan dikirim ke pangkalan udara di Bagram, Afganistan, yang diduduki AS.

    Baasyir pun meminta pemerintah membawa Omar Al-Faruq ke Indonesia berkaitan dengan pengakuannya yang mengatakan bahwa ia mengenal Baasyir. Atas dasar tuduhan AS yang mengatakan keterlibatan Al-Farouq dengan jaringan Al-Qaeda dan aksi-aksi teroris yang menurut CIA dilakukannya di Indonesia, Baasyir mengatakan bahwa sudah sepantasnya Al-Farouq dibawa dan diperiksa di Indonesia.

    Dalam kasus ini, masa penahanan Baasyir diperpanjang pada 31 Januari 2003. Sehari sebelum masa penahanan Baasyir berakhir, pada 27 Februari 2003, kejaksaan menyatakan berkas pemeriksaan kasus Baasyir lengkap, lalu diserahkan ke Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta. Kasusnya bergulir sampai Mahkamah Agung. MA menurunkan hukuman kepada Baasyir hingga menjadi 1,5 tahun.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.