Kubu Jokowi: Tim Gabungan Novel Baswedan Bukti Presiden Serius

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf, Ace Hasan Shadzily saat menggelar konferensi pers di Posko Cemara, Jakarta pada Rabu, 12 Desember 2018. TEMPO/Dewi Nurita

    Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf, Ace Hasan Shadzily saat menggelar konferensi pers di Posko Cemara, Jakarta pada Rabu, 12 Desember 2018. TEMPO/Dewi Nurita

    TEMPO.CO, Jakarta - Tim Kampanye Nasional Jokowi - Ma'ruf mengklaim pembentukan Tim Gabungan kasus Novel Baswedan menjelang debat kandidat hanya kebetulan. "Soal waktu, secara kebetulan saja berdekatan menjelang debat," kata Juru Bicara tim ini, Ace Hasan Syadzily, saat dihubungi Tempo pada Sabtu, 12 Januari 2019.

    Baca: 4 Fakta Seputar Pembentukan Tim Gabungan Kasus Novel Baswedan

    Ia membantah kecurigaan para pegiat Hak Asasi Manusia (HAM) yang menyebut bahwa tim ini dibentuk untuk kepentingan politik menjelang debat capres yang akan menguntungkan Jokowi. Sebab, ajang adu gagasan pertama yang akan berlangsung Kamis, 17 Januari 2019 itu membahas isu hukum, HAM, korupsi, dan terorisme.

    Ace mengatakan, tim khusus mengungkap kasus Novel Baswedan ini dibentuk, tidak lain sebagai tanda keseriusan Jokowi untuk menyelesaikan kasus ini. Dalam satgas ini, kata dia, Presiden Jokowi ingin kasus ini segera diselesaikan secara tuntas dengan melibatkan termasuk di dalamnya juga pegiat HAM.

    "Dalam penyelesaian kasus ini, memang kami harus hati-hati. Karena itu penting sekali melibatkan pihak-pihak di luar kepolisian agar tidak menimbulkan penafsiran politik atas kasus yang dialami Novel Baswedan. Karena kasus ini juga dijadikan sebagai kompoditas politik," ujar dia.

    Sebelumnya, Pegiat HAM Haris Azhar mempertanyakan mengapa tim ini justru mulai bekerja menjelang debat Pilpres. "Aneh, kok seolah bekerja pas mau debat. Saya khawatir dibentuk tim ini, hanya untuk menyediakan jawaban buat Jokowi saat debat," kata dia lewat pesan singkat, Jumat, 11 Januari 2019.

    Haris juga mempertanyakan mengapa dalam tim ini didominasi polisi, padahal selama ini penyelidikan oleh polisi tak pernah membuahkan hasil.

    Haris menilai tim gabungan bentukan Kapolri Jenderal Tito Karnavian ini bukanlah TGPF. Menurut dia, TGPF seharusnya dibentuk presiden. TGPF melaporkan tiap temuannya kepada presiden. Setelah ada temuan, barulah presiden memerintah Kapolri untuk menindaklanjuti.

    Pengacara Novel Alghiffari Aqsa punya dugaan yang sama dengan Haris. Namun, dia berharap tim ini dibuat bukan hanya untuk memberikan jawaban kepada Jokowi saat debat nanti.

    Simak juga: Mereka yang Meragukan Tim Kasus Novel Baswedan Bentukan Polisi

    "Semoga adanya tim ini bukan untuk menyiapkan jawaban ketika kasus Novel Baswedan ditanyakan dalam debat Capres ataupun ketika kampanye," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Realitas Versus Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia

    Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia 2017-2019 mencatat luas area perkebunan 2016 mencapai 11,2 juta hektare. Namun realitas berkata lain.