Di Hadapan Jokowi, Seorang Guru Curhat Sulitnya Ikut Sertifikasi

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi menyampaikan sambutan saat meresmikan Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asyari di Jombang, Jawa Timur, Selasa, 18 Desember 2018. Bangunan museum dikerjakan oleh arsitek alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) Sugeng Gunadi. ANTARA/Puspa Perwitasari

    Presiden Jokowi menyampaikan sambutan saat meresmikan Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asyari di Jombang, Jawa Timur, Selasa, 18 Desember 2018. Bangunan museum dikerjakan oleh arsitek alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) Sugeng Gunadi. ANTARA/Puspa Perwitasari

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi bersilaturahmi dengan Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) di Istana Negara, Jakarta, Jumat, 11 Januari 2018. Dalam acara itu, Jokowi mendengar curhatan satu orang perwakilan guru tentang kesejahteraannya.

    Megayanti, guru asal Pemalang, Jawa Tengah, maju ke depan dan berdialog langsung dengan Jokowi. Ia bercerita tentang sulitnya mengikuti program sertifikasi yang bisa menambah pendapatannya. Ia menilai guru-guru yang sudah berstatus PNS lebih mudah mendapat sertifikasi.

    Berita terkait: Ditemui PGSI, Jokowi Minta Guru Blak-blakan Soal Sertifikasi

     

    "Kami tidak menuntut PNS. Paling tidak masa depan kami, ya Allah gusti, istilahnya perjuangan kami tolong dihargai," kata Mega pada Jokowi.

    Mega menuturkan saat ini program sertifikasi hanya bisa diikuti oleh guru yang sudah mulai mengajar sebelum 2005. Sedangkan guru yang baru mengajar di atas tahun 2005 tidak bisa mengikutinya.

    Selain itu, Mega merasa prosedur untuk mengikuti program sertifikasi terlalu berbelit-beli. Ia mencontohkan harus pergi ke Semarang untuk mengikuti tes online.

    "Oke, apa lagi," tanya Jokowi.

    "Usia dibatasi," jawab Mega

    "Berapa," kata Jokowi.

    "(Maksimal) 35 tahun. Lah saya sudah 36 tahun, enggak ada harapan," balas Mega.

    Mega juga mengeluhkan banyak guru yang tidak mendapatkan sertifikasi karena ijazahnya yang tidak linier dengan pelajaran yang diampu.

    "Jadi (masalahnya) harus punya ijazah S1 linear sesuai mata pelajaran atau jurusan? Oke," jawab Jokowi. Jokowi meminta ajudannya mencatat setiap keluhan yang disampaikan Mega.

    Dalam sambutannya, Jokowi sempat terkejut mendengar ada guru yang bergaji ratusan ribu. "Tadi saya dengar dari pak ketua ada yang digaji Rp 300-500 ribu. Dalam hati tidak percaya tapi kalau yang ngomong pak ketua, ya saya harus percaya," kata Jokowi.

    Secara pribadi Jokowi memberi penghormatan kepada seluruh guru yang hadir di hadapannya. Ia menyampaikan terima kasihnya atas pengabdian dan pengorbanan para guru yang sabar mendidi generasi muda tanpa pamrih.

    Jokowi berujar guru memiliki peran penting untuk memajukan bangsa.
    "Hanya bangsa yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, yang akan jadi bangsa maju, sejahtera, dan makmur," ucapnya.

    AHMAD FAIZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Realitas Versus Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia

    Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia 2017-2019 mencatat luas area perkebunan 2016 mencapai 11,2 juta hektare. Namun realitas berkata lain.