Megawati Ingatkan Kader PDIP Jangan Saling Sikut Rebutan Kursi

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Megawati Soekarnoputri berpidato dalam acara Rakornas PDIP di kantor DPP PDIP, Jakarta Pusat, 1 September 2018. Tempo/Fakhri Hermansyah

    Megawati Soekarnoputri berpidato dalam acara Rakornas PDIP di kantor DPP PDIP, Jakarta Pusat, 1 September 2018. Tempo/Fakhri Hermansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri mengingatkan para kadernya untuk tidak bertengkar karena perebutan 'kursi' dan saling sikut demi mengejar kekuasaan menjelang pemilihan legislatif dan pemilihan presiden 2019.

    Baca: Datang ke HUT PDIP, Kwik Kian Gie - Zulkifli Hasan Disoraki Kader

    "Jangan bertengkar karena rebutan kursi, jangan saling sikut, singkirkan konflik, enyahkan nafsu berkuasa yang lantas bisa membuat perpecahan," ujar Megawati dalam acara perayaan hari ulang tahun PDIP ke-46 pada hari ini, Kamis, 10 Januari 2019 di Jiexpo Kemayoran, Jakarta.

    Megawati mengatakan, jika terjadi perpecahan di internal partai, maka PDIP sudah kalah dari awal. "Kalau kita solid, setengah pertempuran sudah kita menangkan. Setengah kemenangan lagi, turunlah ke rakyat, menangkan hati mereka," ujarnya.

    Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan, HUT ke-46 ini menjadi puncak konsolidasi ideologi, organisasi, politik, dan konsolidasi kader partai untuk memenangkan partai di pemilihan legislatif dan juga memenangkan pasangan nomor urut 01, Joko Widodo atau Jokowi dan Ma'ruf Amin di pemilihan presiden 2019.

    Baca: PDIP Ulang Tahun ke-46, Hasto: Konsolidiasi Pemenangan Jokowi

    "Kami bersyukur bahwa sejarah panjang PDI Perjuangan sejak PNI telah melahirkan tiga presiden: Bung Karno, Megawati Soekarnoputri, dan Presiden Jokowi," ujar Hasto.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wiranto Ditusuk Seseorang yang Diduga Terpapar Radikalisme ISIS

    Menkopolhukam, Wiranto ditusuk oleh orang tak dikenal yang diduga terpapar paham radikalisme ISIS. Bagaimana latar belakang pelakunya?