TKN Jokowi Yakin Masih Ada Pelaku Lain di Kasus Hoaks Surat Suara

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Hukum dan Advokasi Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf, Ade Irfan Pulungan (kiri), melaporkan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto dan tim kampanyenya ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Selasa, 13 November 2018. Prabowo dan tim kampanyenya diduga melakukan pelanggaran dengan melibatkan anak dalam kampanye. TEMPO/Syafiul Hadi

    Direktur Hukum dan Advokasi Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf, Ade Irfan Pulungan (kiri), melaporkan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto dan tim kampanyenya ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), Selasa, 13 November 2018. Prabowo dan tim kampanyenya diduga melakukan pelanggaran dengan melibatkan anak dalam kampanye. TEMPO/Syafiul Hadi

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Hukum dan Advokasi Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi - Ma'ruf Amin, Ade Irfan Pulungan menyakini masih ada pelaku lain dalam kasus hoax atau hoaks 7 kontainer surat suara tercoblos yang belum ditangkap. Dugaannya ini didasarkan pada klaim penemuan barang bukti berupa tiga rekaman suara, yang dua di antaranya merupakan kabar hoaks surat suara itu.

    Baca: Lacak Hoaks Surat Suara, Polisi Aktifkan Nomor HP Bagus Bawana

    Berdasarkan rekaman suara itu, ia meyakini ada pelaku lain yang mendalangi berita hoaks tersebut. "Kami yakin dan percaya, ini pelakunya tidak hanya yang sekarang ini ditangkap,” ujar Irfan di Media Center Jokowi-Ma’ruf, Jalan Cemara, Jakarta Pusat, Rabu 9 Januari 2019.

    Polisi saat ini telah menangkap Bagus Bawana Putra yang dikabarkan adalah Ketua Dewan Koalisi Nasional (Kornas) Prabowo Sandiaga. Bagus ditangkap di Sragen, Jawa Tengah pada 7 Januari oleh Direktorat Tindak Pidana Siber Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia. Polisi menyebut Bagus sempat berniat kabur dan menghilangkan barang bukti.

    Irfan meminta kepada Bareskrim untuk melacak tokoh intelektual di balik kasus ini. Sebab, kata dia, menurut pengakuan Irfan, dua rekaman suara yang ia temukan itu berbeda. Dari dua rekaman itu, hanya satu yang tersebar di media sosial.

    Baca: Kasus Hoaks Surat Suara, Jaksa Agung: Tak Ada Kriminalisasi

    Dalam rekaman yang tersebar itu, muncul nama Djoko Santoso, Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga. Gerindra juga disebut dalam rekaman ini. Karena itu, Irfan juga berharap Djoko dapat memberikan penjelasan kepada publik, kenapa namanya dan partai Gerindra disebutkan dalam rekaman itu. “Itu kan harus diklarifikasi agar publik mendapat kejelasan mengenai masalah ini,” ucapnya.

    Kasus ini bermula dari munculnya isu ada 7 kontainer surat suara yang sudah tercoblos di Pelabuhan Tanjung Priok. Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyatakan informasi itu bohong setelah melakukan pengecekan dan berkomunikasi dengan pihak bea cukai.

    Kabar itu awalnya beredar melalui pesan suara. Informasi menjadi ramai setelah Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Andi Arief mencuitkan hal itu di akun Twitternya.

    Baca: KPU: Kasus Hoaks Surat Suara Bisa Masuk Ranah Pidana Pemilu

    Beberapa orang kemudian melaporkan kasus ini ke Badan Reserse Kriminal Mabes Polri. Polisi kemudian mengklaim sudah mengidentifikasi pembuat hoaks surat suara tercoblos di Tanjung Priok.

    Polisi juga menangkap tiga orang lain yang diduga menjadi pendengung alias buzzer informasi yang diduga dibuat Bagus Bawana. Namun, ketiga orang itu tak ditahan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.