5 Kasus Teror ke Pimpinan dan Pegawai KPK

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana rumah Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif pada Rabu siang, 9 Januari 2019, seusai ditemukan botol kaca diduga bom molotov. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Suasana rumah Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif pada Rabu siang, 9 Januari 2019, seusai ditemukan botol kaca diduga bom molotov. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - Rumah dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi  atau KPK Agus Rahardjo dan Laode M. Syarif diduga diteror dengan benda mirip bom pada Rabu pagi, 9 Januari 2019. Orang tak dikenal menaruh tas hitam berisi benda serupa bom pipa tu di pagar kediaman Agus di Kawasan Bekasi Sementara rumah Laode ditaruh bom molotov.

    Baca juga: Wadah Pegawai KPK Desak Teror Novel Masuk Materi Debat Capres

    Teror terhadap Agus dan Laode, bukan kasus teror pertama yang dialami pegawai KPK. Penyidik senior KPK Novel Baswedan pernah mengungkapkan masih banyak kasus teror ke KPK yang belum diketahui publik. "Saya bilang banyak karena lebih dari lima, banyak pegawai lainnya yang diserang juga," katanya dalam acara peringatan 500 hari teror terhadap dirinya di gedung KPK, Jakarta, Kamis, 1 November 2018.

    Teror terhadap pegawai KPK umumnya terjadi saat mereka tengah menyidik suatu kasus. Ada yang rumahnya ditaruh bom, ada yang disiram air keras dan ada yang ditabrak. Berikut ini lima teror kepada pegawai KPK yang telah diketahui.

    Penyidik KPK Novel Baswedan melihat layar yang menunjukkan jam hitung sejak penyerangan terhadap dirinya, di gedung KPK, Selasa, 11 Desember 2018. Jam tersebut merupakan penanda belum terungkapnya kasus penyiraman air keras yang dialami Novel pada 11 April 2017. TEMPO/Imam Sukamto

    1. Teror Bom ke Pimpinan KPK

    Dugaan teror bom terjadi di rumah Ketua KPK Agus Rahardjo dan Wakil Ketua KPK Laode M. Syarif pada Rabu, 9 Januari 2019. Tas hitam berisi benda diduga bom paralon ditemukan tergantung di pagar depan rumah Agus di kawasan Jatiasih, Bekasi. Sementara, di rumah Laode di kawasan Kalibata ditemukan botol bersumbu berisi air minyak tanah yang diduga bom molotov.

    Kepolisian menyatakan tengah membentuk tim untuk menemukan terduga pelaku teror. "Saat ini kami sudah membentuk tim dan dibantu oleh Detasemen Khusus 88 Antiteror untuk mengungkap peristiwa tersebut," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo.

    2. Teror Novel Baswedan

    Dua orang tak dikenal menyiram wajah Novel dengan air keras pada 11 April 2017. Novel diserang seusai melaksanakan salat subuh di dekat rumahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Siraman air korosif itu membuat mata kirinya rusak parah. Hingga kini, polisi belum menangkap pelakunya.

    Peristiwa teror itu bukan pertama kalinya buat Novel. Sebelumnya, Novel pernah ditabrak mobil tak dikenal, sampai tiga kali. Dua kali kena dan sekali salah orang. Dalam dua kali penabrakan yang tepat sasaran, Novel tersungkur dari sepeda motornya. Beruntung, penyidik utama Komisi Pemberantasan Korupsi itu hanya terluka.

    Insiden terakhir menimpa Novel ketika menangani dua kasus kakap pada pertengahan 2016. Pagi itu, berangkat menuju kantor KPK di kawasan Kuningan, Jakarta, Novel keluar dengan sepeda motor dari rumahnya di kawasan Kelapa Gading. Di jalan yang membelah kawasan pertokoan, tak jauh dari rumah Novel, sebuah mobil Avanza menyeruduk.

    Novel terpental dari tunggangannya hingga berguling-guling di jalan. Sedangkan si penabrak langsung kabur begitu targetnya jatuh. Walhasil, selama beberapa hari Novel tertatih-tatih masuk kantor karena kaki kanannya terluka akibat tertimpa sepeda motor. "Jalan masih lengang. Kalau tak sengaja, rasanya tak mungkin," kata Novel beberapa hari setelah insiden itu.

    Baca juga: Kronologi Penemuan Benda Diduga Bom Rakitan di Rumah Ketua KPK

    3. Serangan Salah Sasaran

    Penabrakan 'salah orang' terjadi pada 2011. Serangan itu sebenarnya ditujukan kepada Novel. Waktu itu Novel sedang menangani kasus cek pelawat. Dia selamat karena penabraknya salah mengidentifikasi target. Yang jadi korban adalah Dwi Samayo, juga penyidik KPK. Sekilas Dwi memang mirip Novel.

    Malam itu Dwi, yang menunggang sepeda motor, ditabrak dari belakang oleh sebuah mobil tak jauh dari kantor KPK. Dia lalu dibawa ke rumah sakit dengan kaki retak. Novel luput dari serangan karena pulang sepuluh menit sebelumnya lewat gerbang yang sama dengan Dwi.

    4. Teror ke Penyidik

    Sejumlah penyidik dan jaksa KPK juga pernah menerima ancaman fisik hingga pesan yang intimidatif. Umumnya, teror datang sewaktu para penegak hukum itu menangani kasus yang melibatkan nama terkenal.

    Misalnya rentetan kejadian yang menimpa Afief Yulian Miftach pada pertengahan 2015. Rumah Afief di Jakamulya, Bekasi, pernah disatroni dua pria tak dikenal. Keduanya kemudian meletakkan sebuah bungkusan mirip bom. Sepekan sebelumnya, ban mobil Afief ditusuk oleh seseorang.

    Malamnya, rumah Afief dilempari telur. Kap mobil Afief, yang diparkir di halaman rumah, juga pernah melepuh karena disiram cairan kimia.

    Waktu itu Afief sedang menangani sejumlah kasus besar. Di antaranya kasus rekening gendut perwira polisi, yang sempat membuat hubungan KPK dan Polri meruncing. Afief menjadi ketua satuan tugas yang dibentuk KPK untuk mengusut kasus tersebut.

    5. Penculikan

    Novel Baswedan mengatakan masih banyak serangan yang dialami pegawai KPK dan belum diketahui publik. Dia menyebutkan rumah perlindungan (safe house) KPK pernah diserbu tanpa aturan hukum. Pegawai KPK juga pernah diculik.

    Selain itu, Novel melanjutkan, rumah penyidik pernah diteror dengan bom palsu. Penyidik juga ada yang pernah diancam dibunuh. Ia mengatakan aktor di balik serangan tersebut belum pernah diungkap. "Banyak lagi hal-hal lain," ucapnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.