7 Kontainer Surat Suara, Megawati: Masak Tak Bisa Hentikan Hoaks

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri dalam acara pembukaan sekolah calon anggota legislatif angkatan III di kantor DPP PDI Perjuangan, Jalan Diponegoro, Jakarta pada Kamis, 15 November 2018. TEMPO/Dewi Nurita

    Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri dalam acara pembukaan sekolah calon anggota legislatif angkatan III di kantor DPP PDI Perjuangan, Jalan Diponegoro, Jakarta pada Kamis, 15 November 2018. TEMPO/Dewi Nurita

    TEMPO.CO, Jakarta- Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri mengaku geram dengan berbagai berita bohong atau hoaks yang merajalela belakangan ini. Salah satunya soal hoaks 7 kontainer surat suara tercoblos di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

    "Masak gak bisa diberhentikan hoaks itu? Mungkin saja ini sebuah permainan toh," ujar Megawati dalam acara Megawati Bercerita di kantor Dewan Pimpinan Pusat PDIP, Senin, 7 Januari 2019.

    Baca: Megawati: Pemilu Sejak 1955 Aman, Sekarang Seperti Mau Dipecah

    Isu 7 kontainer surat suara tercoblos mencuat pada pekan lalu. Komisi Pemilihan Umum sampai harus mengecek langsung ke Tanjung Priok. Hasilnya, KPU menyatakan kabar itu hoaks.

    Megawati juga prihatin dengan hoaks terhadap Presiden Joko Widodo, dirinya serta PDIP yang kerap disebut-sebut terkait Partai Komunis Indonesia (PKI). "Hentikan itu semua," ujar Megawati.

    Presiden RI ke-lima itu berujar jika ingin bertanding maka kontestan harus sportif. Dia juga meminta Badan Pengawas Pemilu sebagai wasit, aktif menindak hoaks yang bisa mendelegitimasi pemilu.

    Simak: Polisi Tangkap Lagi Seorang Terduga Penyebar Hoaks Surat Suara

    "Jangan dibiarin saja. KPU dan Bawaslu harus bilangin dong, masak kami disuruh ngelawan. Nanti kalau ngelawan ngawur kamu bertanggung jawab loh, orang kok dituduh-tuduh enggak jelas," ujar Mega.

    Megawati menuturkan setiap cucunya bertandang ke kediamannya, dia selalu ingin meminjam telepon genggam untuk melihat-lihat sosial media. Sebab, Megawati sendiri tak punya telepon genggam.

    "Saya kepengin jahil pakai hp cucu saya. Saya ingin jawab (hujatan di medsos), pengecut kamu (penyebar hoaks) pengecut kamu! Enggak berani berhadapan. Enggak berani bertanggung jawab," ujar Megawati.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Baru E - Commerce yang Tertuang dalam PP PMSE

    Pemerintah resmi menerbitkan regulasi tentang e-commerce yang tertuang dalam PP PMSE. Apa yang penting dalam aturan baru tersebut?