Mendikbud: Pendidikan Kebencanaan Tak Jadi Mata Pelajaran

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mendikbud Muhadjir Effendy saat mengunjungi Sekolah Dasar (SD) Negeri Kotaraja, Abepura, Papua, pada hari pertama masuk sekolah, Senin, 16 Juli 2018.

    Mendikbud Muhadjir Effendy saat mengunjungi Sekolah Dasar (SD) Negeri Kotaraja, Abepura, Papua, pada hari pertama masuk sekolah, Senin, 16 Juli 2018.

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan, pendidikan kebencanaan tidak akan menjadi mata pelajaran di sekolah-sekolah. "Kalau nanti tidak saya kunci dulu, nanti ribut. Wah ini nambah mata pelajaran, nanti akan ribut itu. Jadi tidak akan menjadi mata pelajaran," kata Muhadjir di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin, 7 Januari 2018.

    Muhadjir mengatakan, pendidikan kebencanaan rencananya akan menjadi bagian dari proses belajar mengajar di sekolah. Ada tiga masalah kebencanaan yang harus ditanamkan pada anak, yaitu pengetahuan dan informasi, hal-hal bersifat teknikal, dan simulasi bencana. "Tiga ini bisa kita lihat lebih cocok di mana," ujarnya.

    Untuk pengetahuan dan informasi, kata Muhadjir, bisa dicocokkan ke beberapa mata pelajaran. Misalnya mata pelajaran geografi atau biologi. Menurut dia, bisa juga masuk ke dalam program penguatan pendidikan karakter.

    Adapun hal yang bersifat teknikal harus disampaikan oleh orang yang ahli dalam kebencanaan, misalnya pejabat Badan Nasional Penanggulangan Bencana. "Tidak mungkin guru. Nanti kalau harus guru, nanti harus men-training guru lagi malah repot," kata dia.

    Sementara dalam simulasi bencana bisa masuk ke dalam ekstrakurikuler, seperti Pramuka. Selain itu bisa juga korps sukarelawan, seperti palang merah siswa. "Jadi nanti di situ lebih efektif. Jadi di dalam kegiatan ekstrakurikuler. Jadi akan kita sebar, tidak jadi mata pelajaran," ucapnya.

    Sebelumnya Presiden Jokowi menyatakan pendidikan kebencanaan di sekolah dan masyarakat akan dimulai bulan ini. "Terutama memang di daerah-daerah yang kemungkinan adanya bencana itu besar, baik tanah longsor, gempa, atau tsunami," ujarnya usai meninjau lokasi terdampak tsunami di Kabupaten Lampung Selatan, Rabu, 2 Januari 2019.

    Dalam sidang kabinet paripurna hari ini, Jokowi mengatakan bahwa pemerintah fokus meningkatkan daya tahan dan kesigapan dalam menghadapi bencana di 2019.

    "Sebagai negara yg berada di atas cincin api, ring of fire, memiliki kondisi geografis rawan bencana, kita harus siap, respon, sigap, dan tangguh menghadapi segala bencana alam," kata Jokowi.

    Pada APBN 2019, kata Jokowi, pemerintah dan DPR telah mengalokasikan lebih banyak lagi anggaran untuk melakukan edukasi dan mitigasi bencana alam. Jokowi meminta kepada jajarannya agar edukasi kebencanaan dikerjakan secara baik dan konsisten. "Dilakukan sejak dini, masuk dalam muatan sistem pendidikan kita sehingga betul-betul siap menghadapi bencana yang ada," katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Pemberantasan Rasuah Indonesia di Hari Antikorupsi Sedunia

    Wajah Indonesia dalam upaya pemberantasan rasuah membaik saat Hari Antikorupsi Sedunia 2019. Inilah gelap terang Indeks Persepsi Korupsi di tanah air.