Hoax Surat Suara, Polisi Usut Grup WhatsApp Politik Sabana Minang

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pewarta foto menghadiri pembukaan rapat validasi dan approval surat suara DPR RI serta presiden dan wakil presiden Pemilu 2019 di Gedung KPU, Jakarta, Jumat 4 Januari 2019. Selanjutnya, 17 Maret - 19 April 2019 akan digunakan intuk menyortir, melipar, dan mengepak surat suara untuk selanjutnya didistribusikan ke TPS. TEMPO/Subekti.

    Seorang pewarta foto menghadiri pembukaan rapat validasi dan approval surat suara DPR RI serta presiden dan wakil presiden Pemilu 2019 di Gedung KPU, Jakarta, Jumat 4 Januari 2019. Selanjutnya, 17 Maret - 19 April 2019 akan digunakan intuk menyortir, melipar, dan mengepak surat suara untuk selanjutnya didistribusikan ke TPS. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Markas Besar Polri sedang mendalami grup percakapan bernama ‘Politik Sabana Minang’ dalam aplikasi WhatsApp. Polisi menduga grup percakapan ini menjadi sumber penyebaran hoax tujuh kontainer surat suara sudah dicoblos di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

    Baca: Gerak Cepat KPU dan Cuitan Andi Arief 7 Kontainer Surat Suara

    Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo mengatakan pendalaman terhadap grup WhatsApp 'Politik Sabana Minang' ini dilakukan setelah polisi menerima laporan dari Komisi Pemilihan Umum (KPU). 

    "Tim siber sedang mendalami yang membuat dan memviralkan voice serta narasi ke media sosial. Ini ada beberapa barang bukti, seperti print out grup WhatsApp atas nama Politik Sabana Minang," kata Dedi saat dikonfimasi, Ahad, 6 Januari 2018.

    Sebab, berdasarkan hasil penelusuran sementara, grup ‘Politik Sabana Minang; ini menjadi salah satu tempat beredarnya tulisan dan rekaman suara seputar hoaks surat suara tersebut.

    Hoaks soal tujuh kontainer berisi surat suara itu sudah dicoblos pertama kali ramai beredar di media sosial. Kabar hoaks itu berdasarkan rekaman suara orang tak dikenal yang mengatakan ada tujuh kontainer surat suara di Tanjung Priok yang sudah dicoblos untuk pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin.  

    Merespons itu, KPU mengecek ke kantor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai KPU Bea dan Cukai Tipe A Tanjung Priok pada 2 Januari 2018 malam. Usai pengecekan KPU menyatakan kabar yang beredar tersebut adalah berita bohong atau hoaks.

    Dalam perkara ini, polisi telah menetapkan HY dan LS menjadi tersangka kasus hoaks surat suara tercoblos. Polisi menyangka keduanya berperan menyebarkan hoax tersebut. “Ditetapkan menjadi tersangka, tapi tidak ditahan,” kata Dedi.

    Simak: Kabareskrim: Tangkap Pelaku Hoax 7 Kontainer Surat Suara

    Polisi menangkap HY di Bogor dan LS di Balikpapan pada 4 Januari 2018. HY ditangkap di Bogor, sementara LS ditangkap di Balikpapan. Setelah diperiksa selama 1x24 jam, polisi menetapkan keduanya sebagai tersangka kasus hoax surat suara dicoblos.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.