BNPB Sebut Sukabumi Kawasan Rawan Longsor

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas SAR gabungan mengangkat kantung jenazah pasca bencana tanah longsor di kampung adat Sinarresmi, Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Selasa 1 Januari 2019. Longsor tersebut menyebabkan 13 orang meninggal dunia dan 34 orang belum ditemukan. ANTARA FOTO/Nurul Ramadhan

    Petugas SAR gabungan mengangkat kantung jenazah pasca bencana tanah longsor di kampung adat Sinarresmi, Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Selasa 1 Januari 2019. Longsor tersebut menyebabkan 13 orang meninggal dunia dan 34 orang belum ditemukan. ANTARA FOTO/Nurul Ramadhan

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan beberapa wilayah di Kabupaten Sukabumi merupakan kawasan rawan longsor. Salah satunya di Kampung Cimapag, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, yang tertimpa bencana longsor pada 31 Desember 2018.

    Baca: Evakuasi Korban Longsor Sukabumi Terhambat Cuaca

    Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, menuturkan Cisolok masuk kategori rawan longsor menengah hingga tinggi. "Jika terjadi hujan dengan curah hujan di atas normal, ada potensi gerakan tanah," kata dia di kantornya, Jakarta, Rabu, 2 Januari 2019.

    Longsor di Cisolok menimpa 30 rumah yang dihuni 32 kepala keluarga. Hingga pukul 13.30 siang ini, BNPB mencatat terdapat 15 korban jiwa. Longsor juga menyebabkan tiga orang luka-luka dan 20 orang hilang.

    Sementara itu sebanyak 63 orang selamat. Sutopo menuturkan, masyarakat yang selamat sempat mendengar gemuruh sehingga mereka melarikan diri. 

    Sutopo mengatakan, longsor serupa mungkin terjadi kembali. Berdasarkan data selama 10 tahun terakhir, longsor menjadi bencana terbanyak yang terjadi di Sukabumi selama periode tersebut. Jumlahnya lebih tinggi dari bencana lainnya seperti puting beliung dan banjir.

    Baca: BNPB: 427 Korban Tewas Tsunami Selat Sunda Sudah Teridentifikasi

    Untuk itu Sutopo berharap pemerintah daerah mengantisipasinya dengan mengatur tata ruang. Daerah yang rawan longsor tak boleh digunakan untuk pemukiman. Sebaliknya, daerah itu bisa ditanami tumbuhan yang akarnya mampu mengikat tanah. "Akan lebih baik lagi jika tanaman tersebut membawa nilai tambah bagi masyarakat sekitar, misalnya dengan menanam sukun," kata Sutopo.

    Dia juga mengimbau pemerintah daerah untuk memberikan sosialisasi mengenai risiko bencana di wilayah mereka. Masyarakat perlu diberikan pendidikan kebencanaan, salah satunya dilatih menghadapi bencana.

    BNPB menyatakan PVMBG telah menyediakan data potensi bencana di seluruh wilayah di Indonesia yang bisa diakses siapapun. Informasi tersebut tersedia di situs www.vsi.esdm.go.id. Selain ditampilkan dalam peta, PVMBG menyajikan tabel potensi bencana per kecamatan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.