MUI: Jadikan 2019 Tahun Solidaritas dan Kepedulian Sosial

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid saat ditemui usai menghadiri open house Oesman Sapta Odang di kediamannya di Jalan Karang Asem Utara Nomor 34, Kuningan, Jakarta Selatan. Dewi Nurita/Tempo.

    Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid saat ditemui usai menghadiri open house Oesman Sapta Odang di kediamannya di Jalan Karang Asem Utara Nomor 34, Kuningan, Jakarta Selatan. Dewi Nurita/Tempo.

    TEMPO.CO, Jakarta - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau seluruh masyarakat untuk menyambut pergantian tahun baru 2019 dengan semangat kesederhanaan. MUI juga mengimbau masyarakat menjauhkan diri dari sikap boros dan berfoya-foya.

    Baca: MUI: Pertentangan Umat Islam di Pemilu 2019 Merugikan

    "Sikap yang menghambur-hamburkan uang untuk kepentingan yang tidak banyak manfaatnya atau mubadzir," kata Wakil Ketua MUI Zainut Tauhid Sa'adi dalam keterangannya di Jakarta, Senin, 31 Desember 2018.

    MUI, kata Zainut, juga berharap masyarakat Indonesia menjadikan tahun baru 2019 sebagai tahun kepedulian sosial untuk menggalang solidaritas nasional. Sebab, dalam beberapa waktu terakhir, berbagai kejadian dan bencana terjadi silih berganti mulai dari gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat; tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah; serta baru-baru ini tsunami di Banten.

    Baca: MUI Bantah Membuat Spanduk Tolak Natal di Pangandaran yang Viral

    MUI, menurut Zainut, turut berharap agar masyarakat Indonesia memperbanyak doa untuk keselamatan bangsa dan negara dari berbagai musibah dan ancaman bencana. Sehingga, kata dia, Indonesia bisa menjadi negara yang aman dan diselamatkan dari berbagai macam ujian, fitnah, dan cobaan.

    Di 2019, Indonesia juga bakal menghadapi ajang Pemilihan Presiden pada 17 April 2019. MUI pun mengajak semua pemimpin bangsa, tokoh agama, dan elit politik agar bisa menahan diri dalam mengekspresikan sikap politiknya. "Termasuk dalam menyampaikan pernyataan pendapat agar tidak menimbulkan suasana semakin panas, tegang dan penuh dengan kecurigaan," ujar Zainut.

    Perbedaan pilihan politik, kata Zainut, harus disikapi secara dewasa tanpa saling menjelekkan, memfitnah, menyebarkan hoax bahkan ujaran kebencian. Sebab, cara-cara seperti itu sama sekali tidak memberikan pendidikan politik yang baik kepada masyarakat. "Jadikanlah perbedaan aspirasi politik sebagai rahmat untuk saling menghormati dan memuliakan agar persaudaraan kebangsaan tetap terpelihara."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.