Kisah Tokoh Adat Pulau Sangiang Emoh Dievakuasi Pasca-Tsunami

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Dewan Keluarga Masjid Pulau Sangiang, Sofian Sauri di Pulau Sangiang, Serang, Banten, 24 Desember 2018. (Dok. Istimewa)

    Ketua Dewan Keluarga Masjid Pulau Sangiang, Sofian Sauri di Pulau Sangiang, Serang, Banten, 24 Desember 2018. (Dok. Istimewa)

    Salah satu relawan, yang datang pagi itu membawa kapal motor adalah Adinda Putri Pratami Aji. Dia adalah pengelola perusahaan travel yang sering ke Pulau Sangiang. Dia nekat ke Pulau Sangiang karena menganggap pulau itu seperti rumahnya yang kedua.

    Dinda mengatakan saat kapalnya tiba di pulau, banyak warga dan pengunjung seakan mendapat harapan, bahkan sampai ada yang menangis. Namun di tengah kekhawatiran yang melanda, Pian terus sibuk mencari korban. Dinda mengaku sempat ikut Pian menemukan satu jenazah pengunjung yang tewas.

    Pada hari itu, Dinda mengaku juga membantu TNI dan Basarnas mengevakuasi pengunjung dan warga. Dia pun sempat mengajak Pian untuk dievakuasi namun ditolak.

    Baca: Pengungsi Tsunami di Perbukitan Banten Kekurangan Selimut

    Beberapa hari setelahnya, Dinda kembali ke Sangiang dan mengajak Pian, namun kembali ditolak dengan alasan sama. "Dia bilang mau cari dulu satu warganya yang hilang," kata Dinda. Pian bertahan di pulau itu bersama 48 penduduk lainnya yang juga memilih bertahan.

    Menurut Dinda, Pian sebenarnya tak memegang jabatan birokrasi di pulau itu. Namun Pian memang selalu sibuk untuk urusan warga, misalnya perayaan 17 Agustus. "Dia itu tokoh masyarakat," kata dia.

    Pian sendiri mengaku dirinya adalah Ketua Dewan Keluarga Masjid di Pulau Sangiang. Dia menganggap dirinya sebagai pemimpin adat bagi di pulau berpenghuni 300 penduduk itu.

    Kegigihan Pian untuk mencari satu warganya ternyata membuahkan hasilnya. Suparman ditemukan enam hari setelah tsunami dengan kondisi tak bernyawa. Pian mengingat menemukan jasad Suparman menyangkut di pohon.

    Meski telah menemukan satu warganya yang hilang, Pian mangatakan tetap tak mau dievakuasi. Dia mengatakan ingin membantu memulihkan mental warganya. "Karena pemulihan untuk mental, makanya saya enggak bisa tinggalin warga," ujarnya.

    Dia mengatakan kini aktivitas warga korban tsunami Selat Sunda diisi dengan tahlilan setiap malam. Pian kadang mengisi acara itu dengan ceramah. "Saya minta warga ikhlas dan sabar, habis kejadian ini pasti ada titik terang," kata Pian.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketentuan THR Ramadan 2021: Tidak Boleh Dicicil

    Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah telah mengeluarkan edaran THR Ramadan 2021 yang mewajibkan perusahaan membayarnya sesuai dengan undang-undang.