Warga Tewas di Poso, Polri Duga DPO MIT Sengaja Ingin Meneror

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Personil Brimob berjaga-jaga di pos pantau wilayah Dusun Gantinadi, Desa Tangkura, Poso, Sulteng, 14 Maret 2015. Selain melakukan patroli lewat darat, polisi juga berpatroli lewat udara dengan helikopter, untuk membantu pengejaran kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso di pegunungan Poso. ANTARA/Zainuddin MN

    Personil Brimob berjaga-jaga di pos pantau wilayah Dusun Gantinadi, Desa Tangkura, Poso, Sulteng, 14 Maret 2015. Selain melakukan patroli lewat darat, polisi juga berpatroli lewat udara dengan helikopter, untuk membantu pengejaran kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Santoso di pegunungan Poso. ANTARA/Zainuddin MN

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepolisian RI menduga satu orang yang ditemukan tewas termutilasi di Pantai Kapal Dusun Salubose, Sulawesi Tengah, sengaja dibunuh oleh kelompok DPO Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso untuk menciptakan keresahan dan teror dalam masyarakat.

    "Selain itu, mereka (kelompok DPO MTI) juga diduga mengincar polisi," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo di Markas Besar Polri, Jakarta Selatan pada Senin, 31 Desember 2018.

    Baca: Dua Polisi Jadi Korban Penembakan DPO MIT Poso

    Korban merupakan warga desa setempat berinisial RB alias A, 34 tahun. Pekerja ladang itu ditemukan hanya kepalanya saja di jembatan desa pada 30 Desember 2018. Setelah mengevakuasi kepala korban, polisi pun bergegas mencari badan korban. Setelah diusut, diketahui badan RB ditemukan di daerah pengunungan.

    Polisi pun memutuskan untuk mengambil badan korban pada keesokan harinya, 31 Desember 2018. Kemudian, hari ini sekitar pukul 09.00 WITA, dua anggota tim gabungan Polres Marigi dan Polda Sulawesi Tengah, yakni Brigadir Kepala Andrew Maha Putra dan Bripka Baso ditembak oleh kelompok yang dipimpim oleh Ali Kalora tersebut ketika dalam perjalanan untuk mengambil badan RB.

    Saat itu, tim gabungan melihat ranting pohon yang berjejer di tengah jalan. Kedua anggota itu kemudian membersihkan ranting-ranting tersebut sampai pada akhirnya dihujani tembakan dari kelompok DPO itu. "Dari keempat tembakan yang dilakukan, dua tembakan mengenai Bripka Andrew Maha Putra dan dua tembakan lainnya mengenai Bripka Baso," ujar Dedi.

    Ia mengatakan Bripka Andrew sempat melakukan tembakan balasan meski dirinya sudah lebih dulu terkena tembakan dari para anggota DPO. Sementara itu, tim lainnya juga melakukan tembakan balasan ke arah datangnya serangan. "Mereka menembaki dari belakang gunung dan lereng gunung. Kejadian baku tembak itu terjadi selama 30 menit," kata Dedi.

    Akibat dari insiden tersebut, Bripka Andrew mengalami luka tembak di bagian punggung sebelah kiri atas, punggung sebelah kanan dan kaki kanannya patah. Sedangkan Bripka Baso mengalami luka tembak di bahu sebelah kiri dan bokong. "Patah tulang yang dialami oleh Bripka Andrew masih belum diketahui apakah dari tembakan atau dari bom lontong yang dilempar oleh DPO MIT Poso," kata Dedi.

    Saat ini, polisi masih melakukan pengejaran kepada DPO MTI Poso tersebut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.