Tujuh Curhat Masyarakat kepada Sandiaga Sepanjang 2018

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon Wapres Sandiaga Uno mengunjungi pabrik bulu mata PT Rosa Sejahtera Eyelashes di Purbalingga. Foto : Tim Sandiaga Uno

    Calon Wapres Sandiaga Uno mengunjungi pabrik bulu mata PT Rosa Sejahtera Eyelashes di Purbalingga. Foto : Tim Sandiaga Uno

    TEMPO.CO, Jakarta - calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno hampir selalu mendapatkan keluhan dari masyarakat di setiap kunjungannya ke daerah-daerah. Keluhan warga itu kebanyakan merupakan permasalahan seputar ekonomi.

    Baca: SBY Turun Gunung Bantu Prabowo - Sandiaga Hadapi Debat Capres

    Berikut keluhan-keluhan yang didapat Sandi dalam minggu terakhir di 2018 menurut siaran pers tim media Prabowo-Sandi yang diterima Tempo:

    1. Langkanya Pasokan Kakao di Indonesia

    Direktur Utama Pabrik Cokelat PT Kakao Industri di Kendari, Sulawesi Tenggara Ahmad Zaki Amiruddin mengeluhkan langkanya pasokan kakao dari perkebunan di Indonesia. "Sekarang bahan baku sangat sulit didapat. Padahal tahun 2000 Indonesia surplus Kakao," kata Ahmad kepada Sandiaga yang berkunjung ke Kendari pada Senin, 24 Desember 2018. Sayangnya, kata Ahmad, saat ini pengusaha harus mengimpor dari Ekuador dan Pantai Gading, Afrika, untuk memenuhi produksi.

    Ahmad juga mengatakan kebutuhan Kakao masih sangat besar untuk keperluan industri cokelat di dunia. Menurut Ahmad, Indonesia seharusnya bisa menjadi pemain dalam penghasil Kakao terbesar di dunia.

    Sandiaga berjanji jika memenangi Pilpres 2019 akan menghubungkan kakao rakyat dengan dunia usaha dan pemerintah dalam konsep public private partnership. Termasuk di dalamnya penanaman kembali yang melibatkan tiga pihak tadi. "Dalam kondisi ekonomi seperti ini, tidak tepat kita melakukan kebijakan impor padahal kita punya sumber daya, hanya tinggal dimaksimalkan," kata Sandiaga.

    2. Langkanya Solar, Izin Melaut, dan Tidak Terserapnya Ikan Laut yang Didapat

    Keluhan ini disampaikan oleh dua nelayan bernama Haji Anwar dan Haji Syamsurizal saat Sandiaga berkunjung ke Tempat Pelelangan Ikan Bebda Galesong Utara, Takalar, Sulawesi Selatan, Selasa 25 Desember 2018 lalu.

    “Solar langka sekali pak. Kami terkadang tidak melaut. Ini menganggu produksi dan kadang banyak kapal nelayan yang tidak bisa melaut,” kata Anwar kepada Sandiaga seperti dalam siaran persnya.

    Anwar juga mengeluhkan harga jual ikan yang menyedihkan, yang menurutnya membuat para nelayan turun omsetnya. "Harga ikan di pagi hari dengan harga di siang hari bisa berbeda, bahkan hingga 90 persen. Harga ikan katakanlah, sepuluh ribu rupiah, nah makin siang dan sore harganya bisa hanya seribu rupiah,” ujar Anwar.

    Sedangkan, Syamsurizal kepada Sandiaga mengeluhkan tentang Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPA) yang menurutnya menyulitkan. "Selain solar yang langka, Surat Ijin Penangkapan Ikan juga menyulitkan kami pak yang punya kapal 30 GT. Kalau bisa pak, kebijakan ini diubah atau kalau bisa dipermudah,” ujar Syamsurizal.

    Sandiaga berjanji akan mencarikan solusi dari keluhan para nelayan. "Kami akan fokus pada penciptaan dan penyediaan lapangan kerja, harga-harga kebutuhan pokok stabil serta terjangkau. Inshaa Allah 2019 Nelayan Sejahtera,” kata Sandiaga.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.