Dua Pengusaha Tambang Jadi Saksi Sidang Eni Saragih

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terdakwa mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Eni Maulani Saragih, mengikuti sidang lanjutan mendengarkan keterangan saksi, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Selasa, 11 Desember 2018. TEMPO/Imam Sukamto

    Terdakwa mantan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Eni Maulani Saragih, mengikuti sidang lanjutan mendengarkan keterangan saksi, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Selasa, 11 Desember 2018. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur PT Smelting Prihadi Santoso dan pemilik PT Borneo Lumbung Energi & Metal Samin Tan akan bersaksi dalam sidang perkara suap PLTU Riau-1 dengan terdakwa eks Wakil Ketua Komisi Energi DPR Eni Maulani Saragih. Sidang Eni Saragih digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu, 26 Desember 2018.

    Baca: Eni Saragih Siap Kembalikan Rp 6 Miliar Bila Terbukti Gratifikasi

    "Rencananya Samin Tan dan Prihadi," kata pengacara Eni, Pahrozi dihubungi Rabu, 26 Desember 2018.

    Dalam surat dakwaan jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi, Eni Saragih disebut menerima gratifikasi sebanyak Rp 250 juta dari Prihadi. Duit itu diberikan karena Eni telah memfasilitasi pertemuan dengan pihak Kementerian Lingkungan Hidup agar perusahaan Prihadi diizinkan mengimpor limbah peleburan tembaga yang tergolong Bahan Berbahaya Beracun (B3).

    Sementara dari Samin Tan, Eni didakwa menerima Rp 5 miliar. Awalnya, Samin meminta bantuan Eni terkait permasalahan pemutusan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) Generasi 3 di Kalimantan Tengah antara PT AKT dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam (ESDM). Eni menyanggupi membantu memfasiliasi pertemuan antara Kementerian ESDM dengan PT AKT.

    Baca: Eni Saragih Didakwa Gratifikasi Rp 5,6 Miliar dari Pengusaha

    Dalam proses tersebut, sekitar bulan Juni 2018 Eni meminta sejumlah uang kepada Samin Tan untuk keperluan pilkada suaminya. Atas permintaan itu, Samin memberikan uang melalui Direktur PT Borneo Lumbung Energi & Metal Nenie Afwani sejumlah Rp 4 miliar secara tunai kepada Eni, lewat tenaga ahlinya Tahta Maharaya. Selanjutnya Eni, kembali meminta tambahan uang kepada Samin. Samin kembali memberikan Rp 1 miliar pada Juni 2018.

    Dalam perkara ini, KPK mendakwa Eni juga menerima gratifikasi dari dua pengusaha lain, yakni Direktur PT One Connect Indonesia (OCI) Herwin Tanuwidjaja sebanyak Rp 100 juta dan SGD 40 ribu, serta dari Presiden Direktur PT Isargas Iswan Ibrahim sebanyak Rp 250 juta. Selain itu, Eni turut didakwa menerima suap dari pemilik saham Blackgold Natural Resources Ltd, Johannes Budisutrisno Kotjo sebanyak Rp 4,75 miliar. Kotjo memberikan uang itu supaya Eni membantunya mendapatkan proyek PLTU Riau-1.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.