Kata BNPB soal Potensi Tsunami dan Erupsi Gunung Anak Krakatau

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto aerial sebuah mobil yang terbawa arus tsunami hingga tersangkut di tengah sawah di kawasan Carita, Banten, Senin, 24 Desember 2018. Kekuatan tsunami pada Sabtu malam, 22 Desember 2018, membuat puluhan kendaraan yang berada di lokasi hancur. ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

    Foto aerial sebuah mobil yang terbawa arus tsunami hingga tersangkut di tengah sawah di kawasan Carita, Banten, Senin, 24 Desember 2018. Kekuatan tsunami pada Sabtu malam, 22 Desember 2018, membuat puluhan kendaraan yang berada di lokasi hancur. ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB menyebutkan potensi tsunami Selat Sunda masih bisa terjadi. Hal tersebut mengingat erupsi Gunung Anak Krakatau masih terus terjadi dan dapat kembali membuat longsor di bawah laut yang menjadi penyebab tsunami.

    "Potensi tsunami susulan yang disebabkan longsoran bawah laut masih berpotensi karena aktivitas erupsi juga masih berlangsung," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di kantornya, Jakarta, Selasa, 25 Desember 2018.

    Baca: Doa di Hari Natal untuk Korban Tsunami Selat Sunda

    Tsunami di Selat Sunda terjadi pada Jumat, 22 Desember 2018. Bencana ini berdampak pada pesisir barat Banten serta Lampung Selatan. Dalam rilis BNPB per tanggal 25 Desember pukul 13.00, jumlah korban meninggal bertambah menjadi 429 jiwa. Selain itu, 1.485 orang menjadi korban luka-luka, 154 masih hilang, dan 16.082 jiwa mengungsi.

    Menurut Sutopo, erupsi Gunung Anak Krakatau ini sudah berlangsung sejak Juni lalu. Dia mengatakan erupsi gunung api ini bertipe strombolian, yang terus menerus melontarkan lava pijar serta abu vulkanik. "Tipenya seperti itu dan radius 2 kilometer dari puncak kawah dinyatakan sebagai zona berbahaya," kata dia.

    Baca: BNPB Sebut Banyak Korban Tsunami Selat Sunda Hanyut ke Laut

    Sutopo menilai aktivitas Gunung Anak Krakatau ini merupakan hal yang wajar. Sebab, kata dia, gunung ini masih dalam fase pertumbuhan untuk menambah tinggi dengan cara meletus terus menerus. "Saat ini tingginya 300 meter dari permukaan laut. Rata-rata terjadi pertambahan tinggi 4-6 meter per tahun," ujarnya.

    Meski demikian, Sutopo memperkirakan tak akan terjadi letusan hebat Gunung Anak Krakatau seperti tahun 1883. Sebab, kata dia, letusan pada tahun tersebut terjadi pada tiga gunung sekaligus, yakni Gunung Rakata, Gunung Danan dan Gunung Perbuwatan di Selat Sunda. "Tiga gunung dengan dapur magma yang besar meletus bersamaan. Setelah letusan habis, tahun 1927 munculah Gunung Anak Krakatau dan dapur magmanya tidak akan sebesar itu," kata dia.

    Baca: Air Pasang, Warga Kecamatan Sumur Sempat Panik Tsunami Susulan

    Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), kata Sutopo, juga telah menetapkan status Gunung Anak Krakatau di level waspada II. Meski demikian, kata dia, aktivitas gunung api aktif ini tak mengganggu pelayaran maupun penerbangan di Selat Sunda.

    PVMBG, kata Sutopo, juga telah merekomendasikan agar masyarakat tak beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari puncak kawah Gunung Anak Krakatau. Selain itu, BMKG mengimbau masyarakat tak melakukan aktivitas di sekitar pantai untuk sementara waktu setelah terjadi tsunami ini. "Sampai kapan rekomendasinya tentu nanti akan disampaikan oleh BMKG, karena menyangkut kehidupan masyarakat di pantai," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.