Doa di Hari Natal untuk Korban Tsunami Selat Sunda

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Doa malam Natal bersama panitia perayaan Natal di Gereja Kristen Pantekosta Rahmat Carita, Pandeglang, Banten, batal digelar, Senin malam,24 Desember 2018. Sebagian besar panitia Natal telah mengungsi akibat tsunami. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Doa malam Natal bersama panitia perayaan Natal di Gereja Kristen Pantekosta Rahmat Carita, Pandeglang, Banten, batal digelar, Senin malam,24 Desember 2018. Sebagian besar panitia Natal telah mengungsi akibat tsunami. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - Musibah tsunami Selat Sunda yang melanda pada Sabtu malam, 22 Desember 2018 kembali menorehkan duka bagi Indonesia. Sampai hari ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat ada 429 korban meninggal, 1.485 luka-luka dan 154 hilang.

    Beragam bantuan dan doa pun mengalir kepada pra korban yang tersebar di Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang dan Lampung Selatan. Termasuk dari sejumlah gereja yang merayakan hari Natal.

    Baca: Kisah Warga Jerman, Penghuni Terakhir di Vila Terdampak Tsunami

    Dalam Misa di Katedral, Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo memimpin doa bagi para korban dan keluarga yang terdampak tsunami di Selat Sunda. "Semoga para korban yang meninggal dunia diberikan kebahagiaan abadi, keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan," kata Ignatius di Katedral Jakarta, Selasa, 25 Desember 2018.

    Doa tersebut disampaikan dalam salah satu rangkaian prosesi Misa Pontifikal Natal 2018 atau misa bersama uskup agung yang diikuti seribuan umat Katolik di Jakarta dan sekitarnya.

    Selain menyampaikan duka cita dan doa bagi para korban yang terdampak tsunami, Ignatius berdoa agar musibah bencana alam itu dapat menggerakkan kepedulian sosial masyarakat. "Semoga kejadian ini menggerakkan kita semua untuk membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah," kata dia.

    Baca: Relawan Tsunami Banten Rayakan Natal di Posko Pengungsian

    Dalam misa Natal pagi di Gereja Santo Yoseph Matraman, Pastor bersama jemaat juga ikut mendoakan masyarakat yang menjadi korban tsunami Selat Sunda. "Kita mohonkan kerahiman dan belas kasih Allah bagi mereka yang menjadi korban dan juga bagi keluarga atau sanak saudara yang ditinggalkan, diberi rahmat penghiburan dan kekuatan," ujar Pastor Dominikus Beda Udjan.

    Ia juga menuturkan sejauh ini tidak ada jemaat gerejanya yang dilaporkan menjadi korban dalam musibah tersebut. "Sampai saat ini info yang saya terima, belum ada jemaat kami yang menjadi korban," ujarnya.

    Doa yang sama mengalir dari jemaat ibadah Natal di Huria Kristen Batak Protestan (HKPB) Rawamangun, Jakarta Timur. "Kita turut mendoakan, tadi di dalam khutbah Natal diajak untuk mendoakan para korban," kata pengurus gereja Jerry Panjaitan.

    Baca: Natal yang Nyenyat di Gereja Lokasi Tsunami Selat Sunda

    Pengurus Gereja HKPB Rawamangun juga sedang mempertimbangkan untuk memberikan bantuan kepada korban seperti saat terjadi musibah gempa bumi, tsunami dan likuifaksi di Sulawesi Tengah. "Waktu bencana Palu kami sumbangkan juga materi dan baju, kita kirim langsung ke Palu. Kemungkinan nanti juga dirapatkan dulu tetap kita partisipasi membantu korban," kata dia.

    Sementara itu, Gereja Pantekosta Rahmat Carita, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang sepi. "Biasanya, malam Natal kami selalu mengadakan doa bersama panitia. Tapi kali ini tidak," kata Pendeta Markus Taekz pada Senin malam, 24 Desember 2018.

    Doa menjelang Natal itu dibatalkan lantaran para panitia balik kanan. Menurut Pendeta Markus, sebagian panitia Natal telah mengungsi. Jemaatnya yang berasal dari Pandeglang, Tanjung Lesung, hingga Sumur, telah mencari tempat-tempat aman.

    Meski begitu, gereja tetap menggelar ibadah Natal pada Selasa sore. Markus mengatakan Natal tahun ini tak digelar meriah. Lagu-lagu yang terlalu riang juga tidak dinyanyikan untuk menunjukkan solidaritas terhadap warga terdampak tsunami Selat Sunda.

    FRANCISCA ROSANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?