BNPB Sebut Banyak Korban Tsunami Selat Sunda Hanyut ke Laut

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pekerja berdiri di depan sebuah mural di dalam bar resor yang hancur yang dilanda tsunami di Tanjung Lesung, Banten, Senin, 24 Desember 2018. REUTERS/Jorge Silva

    Seorang pekerja berdiri di depan sebuah mural di dalam bar resor yang hancur yang dilanda tsunami di Tanjung Lesung, Banten, Senin, 24 Desember 2018. REUTERS/Jorge Silva

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Nasional Penganggulangan Bencana menyebut banyak korban bencana tsunami Selat Sunda hanyut ke laut. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan ada beberapa jenazah yang ditemukan personel TNI Angkatan Laut saat menyisir lautan.

    "Kami baru saja menerima informasi KRI Teluk Cirebon 543 berhasil menemukan jenazah di perairan Pulau Oar daerah Sumur," kata Sutopo pada konferensi pers di kantor BNPB, Jakarta, Selasa, 25 Desember 2018. Sutopo mengatakan, TNI AL juga menemukan dua jenazah lain yang hanyut di Pulau Baduy dan Pulau Handaulong, Kecamatan Sumur, Pandeglang.

    Baca: BNPB Merilis Korban Tsunami Selat Sunda Sementara 429 Jiwa

    Sutopo mengatakan hanyutnya banyak korban ke laut tak lepas dari gelombang yang cukup tinggi menyapu daratan. Menurut laporan warga, kata dia, ada daerah terkena tinggi gelombang yang mencapai lima meter. "Ada yang mengatakan 2 meter, ada juga yang mengatakan di daerah sekitar Sumur, Tanjung Lesung, Cigeulis lebih dari 5 meter," kata dia.

    Menurut laporan masyarakat, kata Sutopo, wilayah Pantai Carita terdampak tsunami dengan ketinggian 2 hingga 2,5 meter. Hal itu, kata dia, terlihat dari batas air yang membekas di batang pohon kelapa. "Ini di Carita saja, apalagi di selatan yang meliputi Tanjung Lesung, Cigeulis, Cigaliung, Cimangguh, Sumur tingginya seperti ini," ujarnya.

    Baca: Air Pasang, Warga Kecamatan Sumur Sempat Panik Tsunami Susulan

    Menurut Sutopo, ketinggian tsunami yang variasi ini membuat kerusakan tiap wilayah berbeda-beda. Selain itu, kata dia, tinggi tsunami yang kemungkinan mencapai 5 meter itu menjelaskan mengapa bangunan sepanjang pantai bisa hancur porak poranda. "Kalau hanya 30 sentimeter atau kurang dari 1 meter dampaknya tidak seperti ini," kata dia.

    Di sisi lain, Sutopo menuturkan tim SAR gabungan terus melakukan evakuasi dan pencarian korban. Pencarian dilakukan lewat tiga jalur, yakni darat, laut, maupun udara. Untuk jalur darat, evakuasi terkendala karena minimnya alat berat yang ada.

    Tsunami Selat Sunda terjadi pada Jumat, 22 Desember 2018. Bencana ini berdampak pada pesisir barat Banten serta Lampung Selatan. Dalam rilis BNPB per tanggal 25 Desember pukul 13.00, jumlah korban meninggal bertambah menjadi 429 jiwa. Selain itu, 1.485 orang menjadi korban luka-luka, 154 masih hilang, dan 16.082 jiwa mengungsi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.