Listrik Padam dan Suara Gemuruh Sebelum Tsunami Selat Sunda

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pria mencari barang berharga miliknya di puing rumah mereka yang hancur tersapu tsunami di Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Lampung, Ahad, 23 Desember 2018. Dikabarkan sebanyak 20 orang masih dalam pencarian, seluruh korban merupakan warga setempat. ANTARA/Ardiansyah

    Seorang pria mencari barang berharga miliknya di puing rumah mereka yang hancur tersapu tsunami di Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Lampung, Ahad, 23 Desember 2018. Dikabarkan sebanyak 20 orang masih dalam pencarian, seluruh korban merupakan warga setempat. ANTARA/Ardiansyah

    TEMPO.CO, Banten - Listrik tiba-tiba padam 30 detik sebelum tsunami Selat Sunda menggulung kompleks Tanjung Lesung Resort, Banten, pada Sabtu malam, 22 Desember 2018.

    Baca: Cerita Saksi Tsunami Selat Sunda: Cuaca Cerah Tak Ada Ombak Besar

    Suara gemuruh dari laut tiba-tiba terdengar. "Ada suara gemuruh. Kami lari karena ada suara 'klatak klatak', seperti benda ditabrak air. Gemuruh dari arah laut lalu menabrak batang kelapa, tembok," ujar Hendro, 45 tahun, saksi yang berada di lokasi kejadian.

    Menurut pengakuan pria yang bekerja sebagai Genderal Manager Beach Club di kompleks Tanjung Lesung Resort ini, tidak ada tanda-tanda akan terjadi tsunami malam itu. "Saya tenang-tenang aja. Air juga enggak ada surut," ujar dia.

    Di siang hari, ujar Hendro, aktivitas berlangsung seperti biasa. Tidak ada yang menduga akan terjadi bencana. Mendengar suara gemuruh, Hendro langsung lari dan tak sempat melihat seberapa besar gelombang yang mengakibatkan tempat kerjanya porak-poranda. "Saya lari masuk kontainer," ujar dia.

    Hendro, 45 tahun, manager beach resort yanhg selamat dari tsunami selat sunda. Tempo/Dewi Nurita

    Selang 10 menit, dia keluar dari kontainer dan tsunami ternyata sudah berhenti. "Suasana gelap sekali. Yang saya dengar hanya teriakan-teriakan. Orang tua nyari anak, istri nyari suami. Orang teriak-teriak, saling sahut-menyahut," ujar dia.

    Baca: Tsunami Selat Sunda, Cerita Koki yang Selamat Berkat Kabel AC

    Saat itu, Hendro sempat berhenti sejenak melihat keadaan sekitar, lokasi pesta penuh cahaya berubah menjadi gelap gulita. "Saya sempat oyong dan terjatuh. Saya mencoba lari sambil menyelamatkan orang sebisanya," tuturnya.

    Berdasarkan data sementara, tsunami Selat Sunda yang terjadi pada Sabtu malam, 22 Desember 2018, ini mengakibatkan 222 orang meninggal, 843 orang luka-luka, dan 30 orang hilang. Perincian korban meninggal, luka dan hilang terdapat di tiga wilayah yaitu di Kabupaten Padenglang, Lampung Selatan, dan Serang. Di Kabupaten Pandeglang daerah yang terdampak terdapat di Kecamatan Carita, Panimbang, dan Sumur.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.