BPPTKG: Luncuran Lava Gunung Merapi Sudah Mencapai 1 Kilometer

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Luncuran lava pijar Gunung Merapi terlihat dari Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. FOTO ANTARA/ Wahyu Putro A

    Luncuran lava pijar Gunung Merapi terlihat dari Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. FOTO ANTARA/ Wahyu Putro A

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Pertumbuhan volume kubah lava Gunung Merapi mencapai 370 ribu meter kubik hingga 19 Desember 2018. Per hari, pertumbuhan kubah lava mencapai 2.000 meter kubik.

    Luncuran guguran lava juga terekam semakin jauh hingga satu kilometer, padahal beberapa hari sebelumnya hanya mencapai 300 meter menuju arah Kali Gendol atau ke arah tenggara.

    Baca: Gunung Merapi Sering Lontarkan Lava Pijar, Status Masih Waspada

    “Pada tanggal 21 Desember 2018 pukul 12:21 WIB telah terjadi guguran lava ke hulu Kali Gendol dengan durasi 129 detik dan jarak luncur diperkirakan sejauh satu kilometer berdasarkan durasi data seismik,” kata Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Hanik Humaida pada Jumat, 21 Desember 2018.

    Hanik mengatakan amplitudo guguran lava itu mencapai 71 milimeter. Pada saat kejadian, cuaca di sekitar Gunung Merapi berkabut.

    Menurut catatan Badan Geologi, pertumbuhan kubah lava Gunung Merapi saat ini, yaitu 2.000 meter kubik, masih tergolong dalam kategori rendah. Status gunung api aktif itu pun masih pada level II atau waspada.

    Baca: Kubah Lava Merapi Tumbuh Stabil, Pendakian Belum Diizinkan

    Hanik menjelaskan level gunung api aktif terbagi mulai dari level I hingga level IV. Level I artinya kondisi normal. Aktivitas gunung tidak ada perubahan secara signifikan. Pada level ini tidak ada perubahan aktivitas secara visual, seismik, dan kejadian vulkanik.

    Jika aktivitas gunung semakin meningkat, kata Hanik, maka dengan hitungan dan pertimbangan tertentu naik menjadi level II atau waspada. Di level waspada menandakan terjadi aktivitas magmatik, tektonik atau hidrotermal. Pada level ini diperkirakan belum terjadi erupsi dalam jangka waktu tertentu.

    Level berikutnya adalah level III atau siaga. Di level ini ada peningkatan seismik yang didukung dengan pemantauan vulkanik serta terlihat jelas perubahan baik secara visual maupun perubahan aktivitas kawah. Kondisi itu akan diikuti dengan letusan. Jika peningkatan aktivitas gunung api terus berlanjut, maka kemungkinan erupsi besar terjadi dalam waktu tidak lama.

    Baca: Libur ke Yogya Lihat Lava Pijar Gunung Merapi, Kenapa Tidak?

    Sedangkan level paling tinggi atau level IV adalah awas. Status awas menandakan gunung berapi segera atau sedang meletus atau pada keadaan kritis yang dapat menimbulkan bencana. Letusan pembukaan dimulai dengan abu dan uap serta letusan berpeluang terjadi dalam waktu lebih kurang 24 jam.

    Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa. Masyarakat di Kawasan Rawan Bencana diimbau untuk terus mengikuti perkembangan informasi aktivitas Merapi.

    “Radius 3 kilometer dari puncak Merapi agar dikosongkan dari aktivitas penduduk dan kegiatan pendakian,” kata Kholiq, salah atau petugas pemantau ruang monitoring BPPTKG Gunung Merapi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.