Polri Deteksi 74 Akun Propaganda Kelompok Bersenjata di Papua

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah keluarga korban penembakan di Kabupaten Nduga Papua, Emanuel B.B Naektias menyambut kedatangan jenazah Emanuel di Terminal Kargo Bandara El Tari Kupang, NTT, 8 Desember 2018. Emanuel merupakan satu dari 20 korban penembakan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kabupaten Nduga, Papua, yang bekerja sebagai Kepala Pelaksana Pekerjaan Jembatan Jalan Trans Papua di PT. Istaka Karya. ANTARA

    Sejumlah keluarga korban penembakan di Kabupaten Nduga Papua, Emanuel B.B Naektias menyambut kedatangan jenazah Emanuel di Terminal Kargo Bandara El Tari Kupang, NTT, 8 Desember 2018. Emanuel merupakan satu dari 20 korban penembakan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kabupaten Nduga, Papua, yang bekerja sebagai Kepala Pelaksana Pekerjaan Jembatan Jalan Trans Papua di PT. Istaka Karya. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Polri telah mendeteksi adanya 74 akun media sosial yang digunakan sebagai alat propaganda oleh kelompok bersenjata di Papua.

    Baca: Pasca-Penyerangan, TNI akan Buka Akses Terisolir di Papua

    "Akun-akun ini digunakan untuk menyebarkan berita hoaks provokatif yang bertujuan menciptakan kebencian terhadap pemerintah dan TNI - Polri," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo di Markas Besar Polri, Jakarta Selatan, pada Jumat, 21 Desember 2018.

    Sebanyak 74 akun itu ditemukan setelah Polri melakukan profiling terhadap akun-akun media sosial yang menyebarkan kabar bohong atau hoaks terkait tindakan kelompok bersenjata di Nduga, Papua. Sebab, setelah aksi pembantaian karyawan PT Istaka Karya, banyak beredar informasi melalui media sosial yang ternyata merupakan hoaks.

    Baca: JK Sebut Opsi Dialog dengan Gerakan Separatis Papua Tertutup

    Dedi mengatakan akun-akun itu diduga milik simpatisan kelompok kriminal bersenjata yang berada di Papua. Melalui 74 akun media sosial itu, para simpatisan melakukan agitasi demi menyiarkan kabar ke dunia internasional. Sejumlah hoax tersebut terbukti sebagai kejadian lama yang kemudian dimunculkan kembali.

    “Ini akun juga digunakan untuk menyiarkan ke dunia internasional juga tentang berita-berita yang tidak benar atau kejadian-kejadian lama diunduh kembali dan dibuat narasi lagi,” kata Dedi.

    Polri pun telah bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) untuk melakukan pemblokiran terhadap akun-akun tersebut. Karena menurut Polri, tindakan tersebut sama saja dengan perang di media sosial.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lembaga Survei: 5 Hal Penting dalam Quick Count Pilpres 2019

    Perkumpulan Survei Opini Publik angkat bicara soal quick count di Pemilu dan Pilpres 2019 yang diragukan kubu Prabowo Subianto - Sandiaga Uno.