Sultan HB X : Pemotongan Nisan Tanda Salib Jadi Introspeksi Kami

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Sri Paduka Paku Alam X usai pelantikan di Istana Negara, Jakarta, 10 Oktober 2017. ANTARA FOTO

TEMPO.CO, Yogyakarta - Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengakui pemahaman tentang toleransi belum dipahami secara utuh oleh warga, termasuk di Yogyakarta. Hal ini diungkapkan Sultan menyikapi sejumlah aksi pelanggaran ibadah keagamaan, pemasangan simbol keagamaan, dan terakhir pemotongan nisan tanda salib di Kotagede yang terjadi pekan ini.

Baca: Sultan HB X Minta Maaf Atas Kasus Pemotongan Nisan Tanda Salib

"Pemahaman toleransi itu makin ke masyarakat di bawah masih belum dipahami secara utuh," kata Sultan, Kamis, 20 Desember 2018.

Pemotongan nisan tanda salib ini terjadi di kompleks pemakaman umum Jambon, Kotagede, pada Senin, 17 Desember 2018. Ketika itu, keluarga almarhum Albertus Slamet Sugihardi memasang tanda salib di atas kuburan di sana. Karena muncul desakan warga kampung, tanda salib dipotong. Alasannya warga hendak menjadikan kompleks itu jadi pemakaman muslim dan bisa memicu konflik pada warga yang mayoritas muslim. Kejadian ini kemudian viral.

Nisan berbentuk tanda salib yang dipotong di sebuah TPU Jambon, Yogyakarta. TEMPO/Pribadi Wicaksonoi

Sultan menyadari, apabila mendasarkan pada sudut pandang konstitusi, seharusnya siapa pun dengan agama apa pun di Indonesia ini tak boleh diintervensi atau diganggu. "Pertanyaannya, apakah semua warga Indonesia yang jumlahnya 260 juta itu sudah siap diajak memahami toleransi utuh berdasarkan konstitusi? Ini tentu butuh proses," tuturnya.

Baca: Pemotongan Tanda Salib Dianggap Indikasikan Pelemahan Toleransi

Menurut Sultan, kejadian di Kotagede tersebut menjadi bahan introspeksi dan mendorong pihaknya untuk melakukan evaluasi ulang terkait relasi sosial masyarakat di tingat bawah, terutama menyangkut pemahaman tentang toleransi. "Kasus ini menjadi introspeksi kami, seberapa jauh sebenarnya warga memahami toleransi secara utuh," katanya.

Tugas pemerintah daerah saat ini, kata dia, menyadarkan warga untuk lebih menghargai orang lain, apa pun latar belakangnya. Karena tanpa kesadaran itu, ia meyakini tak akan ada logika untuk menghargai sesama.

Sultan menuturkan kejadian pemotongan nisan tanda salib di Kotagede itu menjadi semacam alarm bagi warga dan pemerintah. Tanpa ada kasus itu, kata dia, introspeksi tidak akan terjadi dan pemaknaan toleransi seperti yang diharapkan tak segera terwujud.

"Sekarang masalahnya bagaimana kasus seperti ini bisa berkurang, bukan tambah meningkat ke depan," kata Sultan.

Baca: Mendagri Akan Cek Kasus Pemotongan Nisan Salib

Ia pun mengingatkan, setelah peristiwa tersebut, warga diharapkan semakin maju dalam bersikap dan berperilaku menyikapi perbedaan agama dan kepercayaan. "Misalnya, kalau ada warga yang keukeuh menjalankan keyakinan dan ajaran agamanya, disikapi dengan wajar saja dan tidak perlu menjadi persoalan," tuturnya.






Pusat PKL Teras Malioboro Berusia Setahun, Sultan HB X Soroti Nasib Perajin Lokal

1 hari lalu

Pusat PKL Teras Malioboro Berusia Setahun, Sultan HB X Soroti Nasib Perajin Lokal

Teras Malioboro 1 yang berada di seberang Pasar Beringharjo tersebut merupakan tempat relokasi para PKL yang berjualan di Malioboro.


5 Fakta dan Kasak-kusuk Jabatan Gubernur Diusulkan Dihapus

4 hari lalu

5 Fakta dan Kasak-kusuk Jabatan Gubernur Diusulkan Dihapus

Wacana penghapusan jabatan gubernur diembuskan belakangan. Jabatan itu dianggap tak efektif, tak fungsional, dan menghabiskan banyak anggaran.


Muhaimin Iskandar Usul Jabatan Gubernur Dihapus, Sultan HB X : Wewenang Pemerintah Pusat

8 hari lalu

Muhaimin Iskandar Usul Jabatan Gubernur Dihapus, Sultan HB X : Wewenang Pemerintah Pusat

Sultan Hamengku Buwono X merespon santai usulan penghapusan jabatan gubernur yang dilontarkan Muhaimin Iskandar.


Buka Pekan Budaya Tionghoa, Sultan HB X Ajak Maknai Unsur Positif Tahun Kelinci Air

9 hari lalu

Buka Pekan Budaya Tionghoa, Sultan HB X Ajak Maknai Unsur Positif Tahun Kelinci Air

Masyarakat yang mendatangi pembukaan Pekan Budaya Tionghoa itu dihibur dengan berbagai atraksi kesenian dan ratusan kuliner menggoda.


Citra Yogyakarta Sebagai Destinasi Favorit Dibayangi Kemiskinan Warga, Sultan HB X Siapkan Dua Strategi

13 hari lalu

Citra Yogyakarta Sebagai Destinasi Favorit Dibayangi Kemiskinan Warga, Sultan HB X Siapkan Dua Strategi

Angka kemiskinan itu dinilai kontras dengan melimpahnya destinasi Yogyakarta yang setiap tahunnya menyedot jutaan wisatawan.


Liontin Salib Rp 2,9 Miliar Putri Diana Jatuh ke Tangan Kim Kardashian

20 hari lalu

Liontin Salib Rp 2,9 Miliar Putri Diana Jatuh ke Tangan Kim Kardashian

Setelah sempat memakai gaun ikonik Marylin Monroe, Kim Kardashian kini berhasil mendapatkan kalung salin ikonik Putri Diana


Sultan HB X: Jogja Planning Gallery Jadi Destinasi Edukasi dan Pemecah Kepadatan Malioboro

23 hari lalu

Sultan HB X: Jogja Planning Gallery Jadi Destinasi Edukasi dan Pemecah Kepadatan Malioboro

Area Jogja Planning Gallery yang menempati bangunan cagar budaya eks Gedung DPRD DIY bisa menjadi alternatif singgah wisatawan selain ke Malioboro.


Siapkan Lahan Jogja Planning Gallery di Malioboro, Sultan HB X: Pembongkaran Kios Ilegal Pakai Buldoser

30 hari lalu

Siapkan Lahan Jogja Planning Gallery di Malioboro, Sultan HB X: Pembongkaran Kios Ilegal Pakai Buldoser

Gubernur DIY memerintahkan pembongkaran kios ilegal di atas lahan peruntukan Jogja Planning Gallery dipercepat dengan menggunakan alat berat.


Yogyakarta Kian Padat Kendaraan Menjelang Akhir Tahun, Sultan HB X Minta Warga Ikhlas

42 hari lalu

Yogyakarta Kian Padat Kendaraan Menjelang Akhir Tahun, Sultan HB X Minta Warga Ikhlas

Belakangan, jalanan Yogyakarta khususnya di pusat kota dan obyek wisata dipenuhi kendaraan wisatawan, terutama setelah Natal.


GKR Hemas Bangga Kaesang Pangarep - Erina Gudono Pakai Adat Jawa, Sultan HB X Dapat 2 Undangan

9 Desember 2022

GKR Hemas Bangga Kaesang Pangarep - Erina Gudono Pakai Adat Jawa, Sultan HB X Dapat 2 Undangan

GKR Hemas memuji Kaesang Pangarep dan Erina Gudono yang menggunakan adat Jawa dalam pernikahan mereka untuk melestarikan budaya.