Setuju Prabowo, Djoko Santoso: Indonesia Punah jika Tak Berubah

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon Presiden Prabowo Subianto (kiri) saat menerima Rahman, relawan yang berjalan kaki dari Tegal di Kantor BPN Prabowo-Sandi Kertanegara, Jakarta, Kamis, 20 Desember 2018. Rahman mengaku memulai perjalanannya sejak 2 Juli 2018 sampai akhirnya bertemu dengan Prabowo hari ini. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Calon Presiden Prabowo Subianto (kiri) saat menerima Rahman, relawan yang berjalan kaki dari Tegal di Kantor BPN Prabowo-Sandi Kertanegara, Jakarta, Kamis, 20 Desember 2018. Rahman mengaku memulai perjalanannya sejak 2 Juli 2018 sampai akhirnya bertemu dengan Prabowo hari ini. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Djoko Santoso, sepakat dengan pernyataan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo bahwa Indonesia dapat punah. Untuk menghindarinya, kata Djoko, Indonesia perlu berubah.

    Baca: Pidato Lengkap Prabowo Soal Indonesia Punah Jika Kalah Pilpres

    "Ada satu organisasi mengadakan simposium, dikatakan bangsa Indonesia harus bangkit bergerak dan berubah atau akan punah," kata Djoko di Kopi Bos, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis 20 Desember 2018.

    Djoko sedikit bercerita soal sejarah bangsa-bangsa nusantara yang menunjukkan tren tidak berumur panjang. Kerajaan Sriwijaya, kata dia, hanya bertahan selama 300 tahun, selanjutnya Demak hanya bertahan puluhan tahun. Untuk menghindari itu, Djoko mengatakan masyarakat Indonesia harus lebih kritis menanggapi ancaman-ancaman negara.

    Selain itu Djoko pun menuturkan soal patologi negara. Djoko mengibaratkan negara bak manusia yang rentan terkena penyakit pada usia 80 atau 90. Ia mengatakan manusia biasa terkena serangan jantung, atau hati pada usia tadi. Negara, kata Djoko, pun bisa jadi sakit dan habis. Uni Soviet dan Yugoslavia disebut Djoko sebagai contoh negara yang kini runtuh.

    Pada penghujung abad 20, dunia mengalami globalisasi dan perubahan iklim. Dampak dari yang pertama disebutkan tadi, bisa mendatangkan hal negatif seperti narkoba. Djoko menuturkan Narkoba bisa datang sekaligus dalam satuan ton, bukan lagi kilogram. Selain itu ada juga masalah kesenjangan sosial, yang menurutnya kian parah. "Maka ini semua jadi ancaman kita yang sudah membahayakan bangsa," ucap dia.

    Djoko menambahkan, dirinya mempersilakan masyarakat untuk bebas memilih siapapun presiden. Ia mengatakan Indonesia sudah menganut demokrasi, dengan acuan Undang-Undang Pemilu. Kedua pihak, inkumben dan oposisi menurut Djoko juga sudah sepakat untuk menjalankan pemilu damai yang disaksikan bersama, beberapa waktu lalu di Monumen Nasional.

    Simak: Wiranto Heran Prabowo Sebut Indonesia Bisa Punah

    Meski demikian, Djoko mengatakan Prabowo Subianto merupakan Calon Presiden yang jujur dan bersih. Memilih selain Prabowo, berarti mempercepat kepunahan itu "Pilpres bukan segalanya, tapi salah milih presiden mempercepat itu," kata Djoko.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.