Prabowo Dijadwalkan Bertemu SBY, Dahnil Anzar: Minta Wejangan

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (kedua dari kiri) dan Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (kedua dari kanan) menyambut kedatangan calon presiden dan wakil presiden, Prabowo Subianto - Sandiaga Uno, saat tiba di kediamannya di Mega Kuningan, Jakarta, Rabu, 12 September 2018. Pertemuan tersebut untuk membahas strategi dan teknik kampanye pemenangan dalam pemilihan presiden 2019. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (kedua dari kiri) dan Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (kedua dari kanan) menyambut kedatangan calon presiden dan wakil presiden, Prabowo Subianto - Sandiaga Uno, saat tiba di kediamannya di Mega Kuningan, Jakarta, Rabu, 12 September 2018. Pertemuan tersebut untuk membahas strategi dan teknik kampanye pemenangan dalam pemilihan presiden 2019. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto - Sandiaga Uno, Dahnil Anzar, mengatakan Prabowo akan menemui Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di kediamannya di Kuningan pada Jumat, 21 Desember 2018.

    Baca: Tak Dipercaya SBY, Wiranto: Saya Tidak Sembarang Bicara

    "Rencananya ya bicara banyak hal. Biasa kalau dua jenderal bertemu gitu," ujar Dahnil kepada wartawan di kediaman Prabowo, Jalan Kertanegara, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Kamis 20 Desember 2018.

    Prabowo menurut Dahnil sebagai junior SBY dalam kancah politik akan lebih banyak mendengarkan wejangan dari SBY. Dahnil menuturkan tim pemenangan dan Prabowo sudah menganggap SBY sebagai politikus paling sukses di Indonesia. Indikatornya keberhasilan SBY memenangkan Pemilihan Presiden atau Pilpres 2004 dan 2009.

    Dahnil menyatakan Prabowo mengakui keberadaan SBY sangat penting di kubu mereka. Itu pula sebabnya Prabowo juga BPN kebingungan di mana harus menempatkan Presiden ke-6 ini saat SBY menyatakan dukungan dan mengatakan masuk ke dalam BPN. "Tidak ada tempat yang pas, karena beliau sudah sangat tinggi sekali, jadi sebenarnya kami bingung menempatkannya," kata Dahnil.

    Ia pun mengatakan tidak benar apabila selama ini Demokrat dinilai tidak banyak memberikan kontribusi kepada Prabowo - Sandiaga dalam berkampanye. Ia mengatakan baik SBY atau Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY, juga kader Demokrat lain selalu bergerak. SBY pun kata Dahnil merupakan ahli di bidang politik, jadi ia tahu kapan harus terjun dan kapan harus menahan diri.

    Sebelumnya BPN dan Demokrat sempat diisukan tidak solid. Salah satu yang santer terdengar adalah jarang hadirnya SBY di antara jajaran para ketua umum partai Koalisi Adil Makmur. Tercatat sebelum pengambilan nomor urut capres pada September lalu, SBY dua kali absen rapat besar.

    Simak: Demokrat Sebut Wiranto Sepelekan Masalah Perusakan Atribut Partai

    Absennya SBY dalam beberapa rapat penting menguatkan dugaan bahwa Demokrat tak total mendukung Prabowo - Sandiaga dalam Pilpres 2019. Demokrat juga sempat didera isu bahwa partainya berdiri di dua kaki lantaran para kader-kader daerah banyak mendukung calon presiden inkumben, Joko Widodo.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.