WP KPK Pasang Jam Hitung Penyiraman Air Keras Novel Baswedan

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pegawai KPK dan warga masyarakat membentangkan kertas bertuliskan

    Pegawai KPK dan warga masyarakat membentangkan kertas bertuliskan "Novel Kembali Presiden Kemana?" saat menyambut kedatangan Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan di Gedung KPK, Jakarta, Jumat 27 Juli 2018. TEMPO/Subekti.

    TEMPO.CO, Jakarta - Wadah Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi atau WP KPK memasang jam hitung kasus penyiraman penyidik senior lembaga antirasuah itu Novel Baswedan di Gedung KPK. Jam digital tersebut sebagai penanda belum terungkapnya kasus penyerangan air keras kepada Novel satu tahun lalu.

    Baca juga: Tim Advokasi Tolak Adrianus Meliala di Kasus Novel Baswedan

    "Ini sebagai tanda untuk menunjukan kepada masyarakat kalau kasus penyerangan terhadap Novel setelah 600 hari belum juga diungkap," ujar ketua WP KPK, Yudi Purnomo saat peluncuran di Gedung KPK, Selasa 11 Desember 2018.

    Yudi menyebutkan peluncuran jam hitung ini juga bertepatan dengan hari HAM Internasional. Wadah Pegawai KPK pun mendesak agar Presiden Joko Widodo segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta dan mengungkap kasus penyerangan Novel Baswedan. Jam Hitung tersebut ditampilkan melalui layar berukuran 32 inci di samping kanan pintu masuk Gedung KPK

    Selain itu kata Yudi ini juga sebagai simbol agar pegawai KPK tidak lagi diteror, dizalimi dalam bekerja memberantas korupsi.

    Novel Baswedan yang hadir dalam peluncuran tersebut mendesak Presiden Jokowi membongkar kasus penyerangannya. "Ini bukan masalah kecil, ini teror yang jelas bagi KPK dalam memberantas korupsi," ujarnya.

    Novel pun mempertanyakan keberanian Presiden Jokowi dalam mengungkap kasus penyerangan terhadap dirinya. Menurut dia, presiden harus tegas dalam menentukan sikap untuk membongkar kasus tersebut.

    Sebelumnya ketua KPK Agus Rahardjo mengatakan, kepolisian RI belum menemukan titik terang terkait kasus penyiraman Novel Baswedan.

    "Laporannya, kepolisian belum menemukan titik terang," ujar Agus saat ditemui di Jakarta Selatan Selasa 4 Desember 2018.

    Baca juga: KPK Bantah Sejumlah Temuan Ombudsman dalam Kasus Novel Baswedan

    Novel Baswedan diserang dua orang tak dikenal pada 11 April 2017. Salah satu penyerang menyiramkan air keras yang mengenai mata Novel, saat penyidik kasus korupsi kartu tanda penduduk elektronik itu pulang salat subuh berjamaah di masjid dekat rumahnya.

    Akibatnya, kedua mata Novel mengalami kerusakan serius. Mata kiri Novel mengalami kerusakan 95 persen. Ia dirawat di Singapura. Mata kirinya diimplan total dan mata kanannya harus memakai lensa. Novel Baswedan pulang pada 22 Februari 2018, dan bekerja kembali di KPK.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.