Kongres Kebudayaan, Jokowi Singgung Toleransi dalam Berkontestasi

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo melayani permintaan foto bersama usai membagikan Sertifikat Tanah untuk Rakyat di Lapangan Tenis Indoor Pemda Lampung Tengah, Lampung, Jumat 23 November 2018. Presiden membagikan sebanyak 1.300 sertifikat tanah untuk Kabupaten Lampung Tengah. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

    Presiden Joko Widodo melayani permintaan foto bersama usai membagikan Sertifikat Tanah untuk Rakyat di Lapangan Tenis Indoor Pemda Lampung Tengah, Lampung, Jumat 23 November 2018. Presiden membagikan sebanyak 1.300 sertifikat tanah untuk Kabupaten Lampung Tengah. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

    TEMPO.CO, Jakarta-Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengatakan toleransi dan kolaborasi penting dalam menghadapi kompleksitas lalu lintas budaya. "Kita harus membangun kesungguhan bersama untuk bertoleransi dan untuk berbagi. Kita harus menjaga agar interaksi tidak didominasi untuk berkontestasi semata, tetapi interaksi tersebut harus dilandasi jiwa toleransi dan semangat berbagi," kata Jokowi dalam pidatonya di Kongres Kebudayaan Indonesia yang diadakan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Ahad, 9 Desember 2018.

    Menurut Jokowi kompleksitas lalu lintas budaya terjadi karena semua bangsa di dunia, termasuk bangsa Indonesia, semakin lama akan semakin tinggi bersentuhan dengan bangsa lain. Perkembangan teknologi transportasi telah memungkinkan orang untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cara yang sangat mudah dan sangat cepat.

    Baca: Jokowi Baca Sajak Diponegoro di Kongres Kebudayaan

    Perkembangan teknologi informasi juga memungkinkan mobilitas angka, mobilitas kata, mobilitas gambar, dan video semakin mudah untuk dijangkau. "Fenomena ini membuat lalu lintas dan interaksi budaya semakin padat dan kompleks, baik itu berupa interaksi antarkelompok, dan antarbangsa. Interaksi antarkearifan, termasuk interaksi antara yang lama dan yang baru," katanya.

    Jokowi menuturkan orientasi kebudayaan juga jangan sampai keluar dari etos sehari-hari masyarakat Indonesia. "Harus diingat bahwa kontestasi kata tanpa toleransi akan memicu perang kata yang penuh dengan ujaran kebencian, saling menghujat, saling memfitnah seperti yang sering kita lihat akhir-akhir ini," ujarnya.

    Kontestasi diri tanpa toleransi, kata Jokowi, juga akan memicu kecemburuan dan kebencian. Kontestasi ekonomi tanpa toleransi juga dipastikan memperlebar ketimpangan yang ada. Dia juga mengatakan kontestasi politik tanpa toleransi pun bisa menghalalkan segala cara untuk mencapai kemenangan.

    Simak: Jokowi Tantang Mahasiswa Demonstrasi Dukung Program Pemerintah

    Menurut Jokowi tidak cukup hanya menjamin ketersediaan panggung ekspresi. Yang dibutuhkan masyarakat saat ini adalah panggung interaksi yang bertoleransi, dan panggung toleransi dalam berinteraksi. Jokowi memahami bahwa interaksi kebudayaan merupakan fenomena kompleks yang melibatkan banyak sekali pihak.

    Selain itu panggung interaksi yang diwarnai jiwa toleransi pasti membutuhkan ruang yang bervariasi. Misalnya, dia menyebutkan bisa berbentuk ruang fisik yang inklusif, seperti smart city yang menyediakan ruang publik yang inklusif sebagai panggung toleransi. "Bisa juga berupa lembaga keagamaan dan pendidikan, bisa juga berupa media massa, elektronik, dan sosial," kata  Jokowi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.