Jalur Kereta Bandung-Jakarta Sudah Normal, KAI Tetap Siaga

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi kereta anjlok. Dok. TEMPO/Dasril Roszandi

    Ilustrasi kereta anjlok. Dok. TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Bandung - Rute perjalanan kereta dari Bandung menuju Jakarta dan sebaliknya yang sempat terhalang anjloknya kereta kerja (MTT) di KM154+8/9 antara Stasiun Cilame dan Stasiun Padalarang sudah kembali normal. Pembatasan kecepatan 20 kilometer per jam yang sempat diberlakukan pasca tuntasnya evakuasi kereta yang menghalangi jalur kereta kini sudah dicabut.

    “Kami mohon maaf atas terjadinya peristiwa ini karena menggangu perjalaan kereta dari Bandung atau sebaliknya,” kata Manajer Humas PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi II Bandung, Joni Martinus saat dihubungi Tempo, Ahad, 9 Desember 2018.

    Baca: KRL Anjlok di Palmerah, Penumpang Dievakuasi

    Joni mengatakan, kereta MTT yang anjlok tersebut merupakan kereta perawatan jalan rel milik PT KAI yang dioperasikan khusus kebutuhan perawatan jalan rel kereta. Saat pengoperasiannya, kereta mengalami aas anjlok pukul 09.19 WIB kemarin, Sabtu, 9 Desember 2018 di KM154+8/9 antara Stasiun Cilame dan Stasiun Padalarang. Proses evakuasi kereta MTT itu tuntas sore hari itu juga pukul 15.00 WIB.

    Mengenai penyebabnya, Joni belum bisa memberikan informasi. "Karena kita memiliki tim investigasi internal, tim keselamatan, yang memang memiliki kewenangan mencari tahu penyebab terjadinya kejadian itu. Sampai saat ini tim tersebut masih bekerja melakukan penyelidikan,” kata dia.

    Joni mengatakan tidak ada kerusakan pada rel kereta di lokasi anjlokan kereta MTT tersebut. Kendati demikian, PT KAI sempat memberlakukan pembatasan kecepatan pasca-dibuka kembalinya rute tersebut setelah evakuasi tuntas mengikuti standar operasi yang dijalankan.

    Baca: Gerbong Kereta Lodaya Anjlok, Jalur Selatan Ditutup Sementara

    Ia pun menginformasikan bahwa seluruh jadwal perjalanan kereta usai kejadian anjloknya kereta MTT saat ini sudah normal. Seluruh perjalanan kereta diklaimnya sudah berjalan sesuai pengaturan jadwalnya.

    Meski begitu, PT KAI masih tetap siaga untuk mencegah terulangnya lagi peristiwa tersebut. “Ini menjadi perhatian serius kami bahwa kita serius dalam penanganan ini, agar ke depan tidk lagi terjadi kejadian yang bisa membuat ketidaknyamanan penumpang,” kata Joni.

    Menurut Joni, selain antisipasi terkait kejadian kereta anjlok, PT KAI juga mengantisipasi ancaman potensi bencana di jalur kereta akibat curah hujan tinggi yang terjadi di musim hujan ini. “Antisipasi kita, terkait dengan anjlokan kemarin dan juga curah hujan yang sangat tinggi,” kata dia.

    Baca: Kereta Argo Parahyangan Anjlok di Stasiun Bandung

    Ia menyebut sejumlah langkah sudah dilakukan, diantaranya pemeriksaan cermat terhadap sarana dan prasarana kereta, pengoperasian tenaga ekstra untuk memeriksa jalur rel yang ada di wilayah Derah Operasi II Bandung, menyiagakan satuan kecil flying gang atau regu terbang untuk melakukan tindakan cepat tanggap untuk menghadapi semua kejadian gangguan perjalan kereta, pemeriksaan jalur kereta langsung dengan berjalan kaki hingga menyiagakan alat material siaga di beberapa lokasi seperti bantalan, sambungan, serta rel cadangan, termasuk material pasir dan batu, serta berbagai peralatan untuk membantu perbaikan rel.

    Joni mengatakan PT KAI sudah memetakan titik-titik rawan di sepanjang jalur kereta. Di wilayah Daerah Operasi II terdapat 47 titik rawan di sepanjang rute kereta di wilayahnya. “Mulai dari barat sampai Purwakarta, dari arah timur dan sepanjang jalur selatan ke Cianjur. Titik-titik itu menyebar di wilayah Daop II Bandung baik itu rawan bencana longsor, rawan banjir, maupun rawan ambleasan. Titik-titik rawan itu sudah kami idenfitifkasi,” kata dia.

    Khusus di lokasi titik-titik rawan tersebut, kata Joni, PT KAI mendirikan pos penjagaan daerah rawan. Fungsinya memantau dan memeriksa titik-titik rawan tersebut.

    “Pada pos pejagaan daerah rawan itu ada petugas yang secara mobile, secara terus-menerus melakukan pemeriksaan dan pemantauan secara bergantian selama 24 jam. Mereka juga dibekali peralatan kerja yang sesuai kebutuhan. Misalnya alat komunikasi, sehingga ketika terjadi indikasi kondisi rawan, mereka bisa berhubungan langsung dengan stasiun terdekat,” kata Joni.

    Terkait dengan kejadian anjlokan kereta MTT kemarin, jadwal sejumlah kereta terganggu. Diantaranya empat perjalanan KA Argo Parahyangan menuju Bandung, dua perjalanan KA Argo Parahyangan menuju Jakarta serta perjalanan KA Ekonomi Serayu rute Stasiun Pasar Senen-Kiaracondong-Purwokerto yang mengalami keterlambatan.

    Baca: Kereta BBM Anjlok di Banyumas, Pertamina: Tak Ganggu Distribusi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.