Selasa, 18 Desember 2018

LSI Denny JA: Kedua Capres Belum Maksimal Kampanyekan Program

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua calon presiden, Joko Widodo alias Jokowi dan Prabowo Subianto, menyapa hadirin dalam acara Deklarasi Kampanye Damai di halaman Tugu Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Ahad, 23 September 2018. Dua pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) tampil kompak mengenakan pakaian adat. REUTERS/Darren Whiteside

    Dua calon presiden, Joko Widodo alias Jokowi dan Prabowo Subianto, menyapa hadirin dalam acara Deklarasi Kampanye Damai di halaman Tugu Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Ahad, 23 September 2018. Dua pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) tampil kompak mengenakan pakaian adat. REUTERS/Darren Whiteside

    TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga sigi Lingkaran Survei Indonesia atau LSI Denny JA menunjukkan hasil terbaru sigi mereka. Salah satu hasilnya memperlihatkan kedua pasangan calon presiden-wakil presiden belum maksimal mengkampanyekan program masing-masing.

    Misalnya bagi Kubu Jokowi-Ma'ruf. Peneliti LSI Denny JA Rully Akbar mengatakan sebagai inkumben, pasangan ini memang lebih unggul. "Karena banyak masyarakat telah mengenal dan menyukai lima program utamanya," kata dia dalam keterangannya pada Kamis, 6 Desember 2018.

    Baca: LSI Denny JA: Pendukung Jokowi Sebut Kondisi Ekonomi Baik

    Berdasarkan hasil survei, sebanyak 90 persen responden mengaku pernah mendengar Program Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan 96 persen menyatakan suka pada program ini. Lalu 87,6 persen responden pernah mendengar Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan 96,6 persen menyukai program ini. Kemudian 69 persen responden mengaku pernah mendengar program Beras Sejahtera (Rastra) dengan tingkat kesukaan sebesar 93 persen.

    Selanjutnya Program Keluarga Harapan (PKH) diketahui oleh 66,1 persen responden dan disukai sebanyak 95,4 persen. Pembangunan infrastruktur pernah didengar oleh 59,4 persen responden dan 93,8 persen menyatakan suka. Terakhir pembagian sertifikat tanah diketahui oleh 55,3 persen responden dan disukai oleh 94,1 persen.

    Meskipun tingkat popularitas program-program ini di atas 50 persen, namun menurut Rully, program ini belum secara maksimal dikampanyekan. "Buktinya tak ada satu pun program di atas yang terbaca dalam media monitoring," ujarnya.

    Baca: LSI: Isu Receh di Kampanye Tidak Dongkrak Elektabilitas Capres

    Rully pun mengatakan kubu Prabowo-Sandiaga menunjukkan hal serupa. "Mereka sama-sama belum secara maksimal mengampanyekan lima program unggulan," kata dia.

    Bedanya, menurut Rully, sebagai kubu oposisi tingkat popularitas program mereka masih jauh lebih rendah dan tidak ada yang lebih dari 30 persen.

    Sebanyak 25,6 persen responden mengaku pernah mendengar program OK OCE dinasionalkan dan sebanyak 65,5 persen mengkau menyukai gagasan ini. Lalu 23,5 persen menyatakan pernah mendengar gerakan emas minum susu dan 67,6 persen menyukainya. Kemudian 18,7 persen mengaku pernah mendengar gagasan Prabowo melarang impor dan 40,6 persen menyukainya.

    Baca: Lima Ulama Berpengaruh terhadap Pemilih Versi Survei LSI Denny JA

    Program kenaikkan gaji Pegawai Negeri Sipil pernah didengar oleh 13,5 persen responden dan disukai oleh 70,3 persen. Program mengangkat guru honorer pernah didengar oleh 10,2 persen, dan sebanyak 75,6 responden mengaku menyukainya.

    Selain itu, menurut hasil survei, setelah dua bulan berjalannya masa kampanye, saling lempar isu yang kerap dilakukan dan menjadi buah bibir di media daring serta media sosial ternyata tidak berpengaruh signifikan terhadap elektabilitas. "Isu atau program yang punya efek elektoral adalah program kedua capres yang langsung bersentuhan dengan pemilih," kata Rully.

    Survei LSI Denny JA ini dilakukan selama 9 hari sejak 10 November sampai 19 November 2018. Metode sampling menggunakan multistage random sampling dengan 1.200 responden. Pengumpulan data menggunakan wawancara tatap muka dengan menggunakan kuisioner dan dilengkapi dengan focus group discussion serta analisis media dan wawancara mendalam. Adapun tingkat margin of error penelitian ini kurang lebih 2,9 persen.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Fintech Lending, Marak Pengutang dan Pemberi Utang

    Jumlah lender dan borrower untuk layanan fintech lending secara peer to peer juga terus bertumbuh namun jumlah keduanya belum seimbang.