Selasa, 11 Desember 2018

Kelompok OPM Pimpinan Egianus Kogoya di Balik Pembunuhan di Papua

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasukan Brimob dari Timika tiba untuk mengamankan kondisi di Wamena, Papua Selasa, 4 Desember 2018. Jumlah aparat keamanan ditambah untuk mengamankan situasi di daerah tersebut. ANTARA/Iwan Adisaputra

    Pasukan Brimob dari Timika tiba untuk mengamankan kondisi di Wamena, Papua Selasa, 4 Desember 2018. Jumlah aparat keamanan ditambah untuk mengamankan situasi di daerah tersebut. ANTARA/Iwan Adisaputra

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menyatakan pembunuhan terhadap 19 pekerja jembatan pada jalan Trans Papua dan Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua, dilakukan oleh kelompok bersenjata pimpinan Egianus Kogoya. Sebelumnya, kepolisian menyatakan korban tewas akibat insiden ini berjumlah 31 orang.

    Baca: Akui Serang Pekerja di Papua, OPM: Kami Menuntut Kemerdekaan

    Moeldoko menyebut penembakan terhadap pekerja PT Istaka Karya yang membangun proyek tersebut merupakan aksi terorisme. Menurut mantan Panglima TNI ini, pembunuhan itu bukan sekadar kriminal biasa, tapi teror oleh gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM). “Pelakunya sudah dikenal, dan memang mereka (kelompok Egianus Kogoya),” kata Moeldoko di gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 5 Desember 2018.

    Tudingan Moeldoko ini diakui oleh juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), sayap militer OPM, Sebby Sambom. Ia menyatakan serangan ini dilakukan oleh Panglima Komando Daerah Operasi (Kodap) III Ndugama di wilayah Nduga, Egianus Kogoya.

    Sebby menyebutkan, ada 29 kodap dalam struktur TPNPB. Ia menyatakan telah mendapatkan konfirmasi serangan terhadap pekerja proyek jembatan di jalan Trans Papua itu dari 29 kodap. “Markas pusat TPNPB juga membenarkan,” katanya kepada Tempo melalui sambungan telepon, Rabu, 5 Desember 2018.

    Baca: Jokowi Minta Pelaku Penembakan di Papua Ditangkap, OPM Tak Gentar

    Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian mengatakan ada beberapa kelompok bersenjata di Papua. Menurut dia, yang bergerilya di wilayah Nduga adalah kelompok Egianus ini. Menurut Tito, kelompok ini pula yang menculik 26 peneliti di Mapenduma pada 8 Januari 1996.

    Ketika itu 26 orang tersebut, empat di antaranya warga Inggris, yang tergabung dalam Tim Ekspedisi Lorentz 1995 diculik oleh kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka pimpinan Daniel Yudas Kogoya. Beberapa hari setelah penculikan, sejumlah sandera dilepaskan. Namun, empat warga negara Inggris disandera selama berminggu-minggu di hutan belantara Mapenduma. “Mereka (kelompok Daniel) ini senior yang main saat ini,” kata Tito yang pernah menjadi Kepala Kepolisian Daerah Papua.

    Ia juga mengatakan kelompok Egianus terlibat insiden penembakan pada pesawat Twin Otter milik Trigana Air yang membawa 15 anggota Brimob ketika mendarat di Bandar Udara Kenyam, Juni lalu. Tito mengatakan sempat terjadi kontak tembak yang membuat kelompok ini lari ke hutan di Mapenduma.

    Baca: TNI-Polri Temukan 16 Korban Tewas Insiden Pembunuhan di Papua

    Masih menurut Tito, beberapa pekan lalu, kelompok ini memperkosa seorang guru perempuan. Guru tersebut merupakan pendatang asal luar Papua. Selain itu, kata Tito, kelompok Egianus ini juga menganiaya warga lain di Nduga. Setelah kejadian tersebut, aparat kepolisian dan TNI mengejar mereka. Kelompok ini pun lari ke kawasan hutan. “Kali ini mereka menyerang pekerja pembangunan jalan dan jembatan PT Istaka,” kata Tito.

    Tito mengatakan motif kelompok ini adalah menginginkan kemerdekaan. Kelompok tersebut menjadikan anggota TNI dan kepolisian sebagai sasaran utama serangan. “Mereka juga menyerang pendatang dari luar Papua,” kata Tito.

    MAYA AYU | FRISKI RIANA | BS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peringkat Indonesia dalam Indeks Persepsi Korupsi 1995 - 2017

    Sejak kehadiran KPK pada 2002, skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia hingga 2017 menanjak 18 poin yang berarti ada di peringkat 96 dari 180 negara.