Fahri Hamzah Pertanyakan Sistem Pengamanan Pekerja di Papua

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Fahri Hamzah, saat ditemui di Hotel Mercure Ancol, Jakarta, 20 Maret 2018. Tempo/Hendartyo Hanggi

    Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Fahri Hamzah, saat ditemui di Hotel Mercure Ancol, Jakarta, 20 Maret 2018. Tempo/Hendartyo Hanggi

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mengatakan pemerintah perlu segera merespons insiden pembunuhan 31 orang pekerja PT Istaka Karya yang tengah mengerjakan proyek pembangunan jembatan di Nduga, Papua. Pembunuhan pekerja proyek oleh kelompok bersenjata di Papua ini, menurut dia, merupakan hal serius yang mesti ditangani dengan cepat.

    Baca: TNI dan Polri Turun Evakuasi Korban Pembunuhan di Papua

    "Pemerintah harus segera memberikan keterangan dan mengambil tindakan yang memberikan penjelasan ke publik bagaimana pemerintah menghadapi masalah ini," ujar Fahri di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa, 4 Desember 2018.

    Sebanyak 31 orang pekerja proyek jalan Trans Papua yang sedang bekerja membangun jembatan di Kali Yigi dan Kali Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua, diduga dibunuh kelompok bersenjata. Pembunuhan diduga terjadi pada Minggu malam, 2 Desember 2018.

    Berdasarkan keterangan Polda Papua, hingga Senin malam pukul 22.35 WIT, sebanyak 24 orang lebih dulu dibunuh. Setelah itu, sebanyak 8 orang sempat melarikan diri ke rumah seorang anggota DPRD. Namun, delapan orang itu dijemput oleh kelompok bersenjata. Tujuh di antaranya dibunuh, satu orang melarikan diri dan belum ditemukan.

    Baca: Jokowi Minta Panglima TNI dan Kapolri Cek Pembunuhan di Papua

    Fahri mempertanyakan bagaimana sistem pengamanan pekerja sipil sehingga bisa dibunuh kelompok bersenjata saat bekerja membangun jembatan. "Bagaimana operasi intelijen selama ini, kenapa tak bisa mendeteksi dan memantau adanya pergerakan orang bersenjata seperti ini," katanya.

    Menurut Fahri, adanya kejadian ini dapat berpengaruh terhadap pembangunan di Papua. Hal ini, kata dia, akan membuat orang tak mau bekerja dan berinvestasi di Papua. "Orang tak akan mau bekerja, dan tak mau investasi karena tak aman," ucapnya.

    Fahri menuturkan, selama ini para pekerja mau melaksanakan proyek di Papua karena merasa ada jaminan keamanan oleh pemerintah. Namun, dia menambahkan, kejadian ini menunjukkan hal sebaliknya. "Ini menghentak kita. Bayangkan sekelompok orang bersenjata lengkap melakukan mobilisasi di Tanah Air ini kok tak terpantau, lalu mereka lakukan pembantaian," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.