Selasa, 11 Desember 2018

Kapitra Ampera: Pendukung Prabowo Hanya Sebesar Massa Reuni 212

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapitra Ampera. TEMPO/Imam Sukamto

    Kapitra Ampera. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Calon legislatif Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kapitra Ampera mengatakan Reuni 212 bukanlah ancaman bagi elektabilitas Joko Widodo atau Jokowi - Ma’ruf Amin. Kapitra mengatakan massa aksi reuni 212 merupakan sebagian kecil dari daftar pemilih tetap pada Pilpres 2019.

    Baca: Kubu Jokowi Investigasi Pelanggaran Reuni Akbar 212

    “Jutaannya berapa? Katakanlah 10 juta, itulah pemilih Prabowo. Yang lainnya memilih pak Jokowi - Ma’ruf,” kata Kapitra ditemui di Media Center Jokowi - Ma’ruf, Jalan Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, Senin 3 Desember 2018.

    Menurut Kapitra massa reuni 212 adalah sejatinya kekuatan pendukung Prabowo. Seluruh massa aksi yang hadir, kata dia, adalah orang-orang yang dikonfirmasi memilih Prabowo. Ia menambahkan itu hanya sebagian kecil dari jumlah pemilih tetap.

    Selain itu, kata dia, aksi tersebut tidak terdapat swing voters yang hadir. Ia meyakini seluruh peserta reuni yang hadir, baik muslim atau non-muslim, adalah orang-orang yang sudah memutuskan pilihannya kepada Prabowo - Sandiaga.

    Baca: Ketua MPR: Jutaan Orang di Reuni Akbar 212 karena Gerakan Hati

    Ia pun meyakini massa tersebut merupakan orang-orang suruhan partai. Secara spesifik Kapitra mengatakan itu merupakan kader dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang diarahkan untuk hadir. “Itulah kekuatan riilnya di seluruh Indonesia,” kata dia.

    Kapitra menambahkan, aksi reuni seharusnya tidak digelar karena sudah tidak sesuai konteks pada saat terbentuknya dua tahun lalu. Saat itu, aksi 212 bergerak untuk memenjarakan Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok karena dianggap menista agama.

    “Dia pernah salah, dan kesalahan itu sedang ditebusnya. Lalu konteksnya dulu 2016 kan itu. Masak kita rayakan. Saya nggak habis pikir, common sense saya nggak bisa terima,” ucap dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peringkat Indonesia dalam Indeks Persepsi Korupsi 1995 - 2017

    Sejak kehadiran KPK pada 2002, skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia hingga 2017 menanjak 18 poin yang berarti ada di peringkat 96 dari 180 negara.