Panitia Reuni 212 Sebut Pidato Politik Rizieq di Luar Wewenang

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama Yusuf Martak (tengah) dan Ketua Umum Persaudaraan Alumni 212 Slamet Maarif di depan rumah Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Jalan Kertanegara IV, Jakarta Selatan, Kamis, 9 Agustus 2018. GNPF membawa dua nama cawapres alternatif untuk Prabowo, yakni Muhammad Arifin Ilham dan Abdullah Gymnastiar. TEMPO/Budiarti Utami Putri.

    Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama Yusuf Martak (tengah) dan Ketua Umum Persaudaraan Alumni 212 Slamet Maarif di depan rumah Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Jalan Kertanegara IV, Jakarta Selatan, Kamis, 9 Agustus 2018. GNPF membawa dua nama cawapres alternatif untuk Prabowo, yakni Muhammad Arifin Ilham dan Abdullah Gymnastiar. TEMPO/Budiarti Utami Putri.

    TEMPO.CO, Jakarta - Koordinator Reuni 212 Yusuf Martak mengatakan pidato pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab di hadapan massa aksi 212 yang berbau politik sudah di luar kewenangan panitia. Ia membantah jika acara yang digelar di Monas pada Ahad, 2 Desember 2018 itu bermuatan politik

    Baca juga: 5 Pidato Rizieq di Reuni 212: Ayat Suci di atas Konstitusi

    "Kalau sambutan HRS dianggap ada kaitan politik, itu di luar kontrol dan tidak dalam bentuk kampanye. Mungkin luapan kekecewaan beliau terhadap kriminalisasi terhadap dirinya dari rezim sekarang," ujar Yusuf Martak kepada Tempo pada Ahad, 2 Desember 2018.

    Pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab menyerukan kepada para peserta Reuni 212 untuk memilih Presiden yang berasal dari Ijtima’ Ulama GNPF. Rizieq yang berbicara lewat sambungan telepon dari Mekkah memang tidak menyebut nama.

    "Saya mengajak semua yang ada di sini untuk berubah, dan perubahan yang paling dekat adalah 2019 ganti presiden," kata Rizieq, Ahad, 2 Desember 2018. Ia pun kemudian meminta semua peserta Reuni 212 menirukan ucapannya. "Sekali lagi apa, 2019 ganti presiden." "Semuanya, 2019 ganti presiden."

    Menurut Martak, pernyataan tersebut wajar disampaikan di tahun politik. "Semua orang juga saat ini rata-rata sering bicara ada kaitan dengan politik," ujar dia.

    Sebelumnya, panitia Reuni Akbar 212 menjanjikan acara tersebut tak mengandung unsur politik praktis. Yusuf Martak bahkan sampai bersumpah untuk memenuhi janji itu, saat ditantang oleh Anggota Tim Kampanye Nasinal (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Razman Arif Nasution dalam sebuah acara diskusi di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 1 Desember 2018.

    "Demi Allah, Wallahi saya bersedia, tidak punya agenda politik sama sekali di dalam pengadaan acara ini," ujar Martak.

    Dengan adanya pidato Rizieq Shihab di acara Reuni Akbar 212, Yusuf berdalih bahwa dia hanya menjanjikan bahwa acara itu bukan untuk agenda politik, namun dia tidak pernah menjamin tak akan ada sedikitpun kata yang menyangkut politik dalam acara itu.

    Baca juga: Kepada Massa Reuni 212, Rizieq Shihab: 2019 Ganti Presiden

    "Buka saja rekaman pernyataan saya. Demi Allah Reuni kami tidak untuk agenda politik, bukan saya menjamin tidak bakal ada sedikit pun kata yang menyangkut politik. Lagipula, apa ada saya atau panitia inti bicara politik?" kata Martak. Toh, kata dia, Prabowo yang hadir di acara Reuni 212 tidak berbicara politik.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.